BERAKSI (Berita Akuntansi)

Sisa Kuota Pendaftaran Kartu Pra Kerja akan Diberikan ke Siapa?

0

Jakarta –  Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana (PMO) Program Kartu Pra Kerja, Denni Puspa Purbasari meminta kepada seluruh masyarakat untuk memberikan kesempatan kepada kelompok yang terdampak virus Corona (COVID-19).

Kelompok yang dimaksud adalah para masyarakat yang penghasilannya berkurang bahkan tidak lagi ada semenjak virus Corona menyebar di tanah air.

“Manfaat pra kerja adalah sebesar Rp 3.550.000 per orang hanya diberikan 1 kali, saya imbau dalam masa unusual, mari kita mengedepankan toleransi kepada saudara kita yang terdampak paling dalam, dahulukan mereka,” kata Denni saat konferensi pers virtual, Jakarta, Selasa (14/4/2020).

Pemerintah menargetkan 5,6 juta orang yang mengikuti program Kartu Pra Kerja, dan kini sudah ada 4 juta yang mendaftar. Dengan begitu kuota yang tersisa sekitar 1,6 juta orang lagi.

Sedangkan untuk anggaran yang disediakan pemerintah Rp 20 triliun. Dari anggaran tersebut, setiap peserta akan mendapatkan insentif sebesar Rp 3.550.00 per orang, Denni menjelaskan dari total tersebut sebesar Rp 1 juta digunakan sebagai biaya pelatihan. Lalu ada dana Rp 600.000 sebagai insentif penuntasan pelatihan per bulan diberikan selama 4 bulan, lalu sebesar Rp 150.000 merupakan insentif survei kebekerjaan.


Adapun kriteria calon peserta yang ditentukan pemerintah adalah warga negara Indonesia (WNI) harus berumur 18 tahun ke atas dan tidak sedang menempuh pendidikan formal. Pekerja yang baru saja terkena PHK dan tidak menempuh pendidikan formal juga bisa ikut.

“Karena sekali lagi anggaran pemerintah terbatas, kita tidak bisa memberikan ke semua orang maka jalinan toleransi kita dipanggil dengan nyata,” tegasnya.

Para peserta nantinya bisa memilih paket pelatihan. Ada lebih dari 900 pelatihan online dari beragam jenis dan tingkatan, mulai dari pemula sampai tingkat mahir akan tersedia di 8 platform digital yang bekerja sama dalam program ini. Setengahnya adalah jenis pelatihan yang praktis, ringan dan dapat menghasilkan pendapatan baru.

Contohnya, pengenalan teknologi informasi untuk pemula, akuntansi untuk pemula, pelatihan da’i muda, menjadi MC handal, manajemen warung kopi, bahasa Inggris praktis untuk pelaku pariwisata, dasar keterampilan housekeeping, dan belajar menjadi telemarketer.

Menurut Denni, program Kartu Pra Kerja ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi, keterampilan, dan budaya atau sikap bekerja. Seiring penyebaran COVID-19, program Kartu Pra Kerja menjadi sarana penyaluran insentif kepada masyarakat yang terdampak.

“Dalam rangka respon COVID-19 program Pra Kerja juga ditujukan sebagai instrumen sosial safety net untuk meringankan beban hidup dan membantu daya beli masyarakat yang terdampak,” ungkapnya.

Penuhi aturan PSAK 71, Bank BJB siap tingkatkan CKPN

0
ILUSTRASI. Pelayanan Bank BJB Bandung Jelang Lebaran

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR, anggota indeks Kompas100) tengah berupaya untuk mengimplementasikan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71. Saat ini, Bank BJB sudah memiliki Cadangan Kerugian Penurunan Laba (CKPN) sebesar 92%.

Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi berucap, walaupun aturan ini cukup menantang karena harus mencadangkan lebih dari 100%, namun BJB berkomitmen untuk mematuhinya. 

“Terbukti dari tahun lalu di mana CKPN sebesar 30%, Alhamdulillah akhir tahun lalu ada laba kami yang dimasukkan ke dalam CKPN, jadi angkanya sekarang sudah di posisi 90-92%,” ucap dia.

Yuddy menambahkan, pihaknya akan terus berupaya untuk bisa memenuhi ketentuan tersebut. Pasalnya, implementasi PSAK 71 ini harus sudah dilaksanakan pada 2020. Untuk itu, pihak bank BJB sudah melakukan persiapannya. “Tiap bulan kami haris mencadangkan lebih kurang Rp 80 miliar,” katanya.

Di lain pihak, perusahaan juga harus menjaga kualitas kreditnya agar tidak menggerus CKPN. Nah, guna menjaga kualitas kredit ini, BJB melakukan reposisi bisnis dengan kembangkan bisnis pada sektor produktif khususnya di Jawa Barat dan Banten. 

Selain itu, BJB juga tengah mengembangkan inisiatif agar rasio dana murah alias CASA meningkat. Yuddy mengaku, saat ini CASA rasio banyak terdapat di komponen dana mahal, seperti deposito.

“Kami berusaha meningkatkan CASA, meningkatkan fee based. Seperti bikin tabungan rasa deposito juga program digitalisasi,” jelasnya.

Sejumlah rencana ini diharapkan dapat mendongkrak CASA rasio BJB dari 45% menjadi 51-55% pada akhir tahun ini. 

“Upayanya dengan menggantikan komponen dari pendapatan bunga yang berasal dari komponen kredit. Salah satunya dengan menggaet institusi. Alhamdulilah, BJB ditunjuk sebagai wali amanat PT Wijaya Karya yang mau nerbitin obligasi senilai Rp 500 miliar,” paparnya.

Pada triwulan kedua 2019, pertumbuhan kredit secara yoy BJB tumbuh 8,2% menjadi sebesar Rp 78,2 triliun dimana rasio Non Performing Loan (NPL) bertahan di level 1,7%. 

Rasio NPL ini lebih kecil dibanding rasio NPL industri perbankan yang sebesar 2,61%. Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun juga tercatat positif sebesar Rp 95,1 triliun atau tumbuh 7% yoy. Sehingga bank BJB berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 803 miliar.

Hubungan Artificial Intelligence Terhadap Akuntansi Millenial

0

Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menuntut seluruh bidang profesi harus dapat mengembangkan cara kerja yang lebih cepat dan tepat agar tidak tertinggal oleh zaman. Tentunya dalam hal pengambilan keputusan serta  tujuan dengan langkah yang lebih efisien. Salah satunya adalah terciptanya Artificial Intelligence (AI). 

Artificial Intelligence (AI) merupakan kecerdasan buatan manusia berupa simulasi yang terprogram dalam mesin. AI bekerja pada proses penalaran, perolehan informasi atau aturan, yang kemudian  menghasilkan output dengan cepat dan sistematis.

AI memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan. Begitu pula dalam dunia akuntansi, sebuah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari masalah keuangan secara dominan berbasis perhitungan. Dengan adanya AI lebih mempermudah seorang akuntan dalam menganalisis permasalahan secara cepat dan teliti. 

Di sisi lain, terdapat tantangan tersendiri dari kemunculan AI yaitu seorang akuntan milenial dituntut untuk lebih menguasai bidang ilmu dan skill. Akuntan milenial harus kreatif dan inovatif dalam pengembangan aplikasi laporan keuangan serta harus dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sehingga mereka mampu menunjukkan diri sebagai akuntan yang professional dan berdaya saing.

Mengapa seorang akuntan disebut milenial ? Karena selain memiliki penguasaan ilmu dan skill seorang akuntan juga harus dapat mengimbangi kemajuan teknologi yang sangat pesat agar tidak tertinggal, mengingat kemunculan AI sangat berdampak besar terhadap hampir semua sektor kehidupan. 

Apalagi pada era globalisasi sekarang ini, daya saing antarindividu semakin tinggi ditambah lagi harus bersaing dengan mesin dan peralatan canggih lainnya. Selain itu, kesiapan mental juga menjadi hal yang sangat krusial dalam menghadapi pangsa pasar. Tanpa adanya kesiapan mental yang matang, kemampuan individu tidak akan optimal.

Akuntan milenial tentunya memiliki potensi masa depan yang cerah dalam kemajuan ekonomi dimana ketekunan, semangat yang tinggi, dan optimisme patut dilandaskan dalam setiap diri individu. Hadirnya AI memang sangat mempermudah pekerjaan seorang akuntan. Namun di sisi lain, tentu terdapat beberapa kelemahannya. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Terbatas pada program yang diberikan
  • Membuat kinerja manusia menjadi menurun dalam beberapa bidang pekerjaan karena sudah digantikan oleh AI
  • Tidak memiliki kemampuan dalam mengerti akan informasi yang diterima (common sense)

Kecerdasan buatan atau AI banyak membantu pekerjaan kita dan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentunya AI akan terus berkembang dan lebih pintar lagi dengan berbagai perbaikan dan pengembangannya, walaupun masih terdapat beberapa kekurangan atau kelemahannya karena pada dasarnya tidak ada yang dapat melampaui kecerdasan manusia secara mendetail dan sempurna.