BERAKSI (Berita Akuntansi)

Perubahan PSAK di pelaporan SPT PPh Badan pada April 2021 bisa picu sengketa pajak

0

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Jatuh tempo pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan pajak penghasilan (PPh) badan 2020 akan berakhir di 30 April 2021. Salah satu lampiran SPT PPh badan 2020 tersebut adalah laporan keuangan yang sebagiannya sudah diaudit oleh kantor akuntan publik.  

Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research, Prianto Budi Saptono, menjelaskan, untuk perusahaan yang wajib menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan atau 3 PSAK baru di laporan keuangan mereka, ketiga standar akuntansi tersebut berpotensi meningkatkan tax dispute atau perselisihan pajak.

Prianto bilang, ketiga PSAK yang berpeluang memunculkan perbedaan interpretasi di antara perusahaan dan otoritas pajak adalah PSAK 71, PSAK 72, dan PSAK 73. Pasalnya, konsep akuntansi di ketiga PSAK tersebut berbeda kontras dari konsep PSAK sebelumnya. 

Khusus untuk PSAK 71 yang mengatur instrumen keuangan, sumber tax dispute-nya, menurut Prianto, berasal dari keharusan pengakuan keuntungan, dan kerugian, yang belum terealisasi (unrealized gains/losses). Untung/rugi tersebut berasal dari valuasi periodik atas investasi saham (equity investment) dan/atau investasi surat utang (debt investment) sesuai harga pasarnya.

Prianto mengatakan, untuk contoh unrealized gains, ketika perusahaan mengakui unrealized gains, keuntungan tersebut merupakan penghasilan dari sisi akuntansi. Dari sisi PPh, pertanyaan yang muncul adalah apakah keuntungan tersebut merupakan objek PPh.  

“Jadi, ada dua pendekatan penafsiran terhadap pengertian penghasilan di UU PPh, yaitu tekstual dan kontekstual,” kata Prianto dalam keterangan resminya, Rabu (7/4).

Menurut Prianto, berdasarkan penafsiran tekstual atas pengertian penghasilan di Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 1983  terkait PPh sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU Nomor 11 Tahun 2021 tentang Cipta Kerja, unrealized gains tersebut merupakan penghasilan dan menjadi objek PPh.  

Tapi, berdasarkan pemahaman kontekstual sesuai rumusan penghasilan yang tidak pernah berubah sejak 1983 hingga kini, pengakuan penghasilan mengacu pada doktrin realisasi. “Berdasarkan doktrin realisasi tersebut, unrealized gains belum diakui sebagai penghasilan karena belum terealisasi,” ujar dia. 

Dua model penafsiran di atas berlaku juga untuk contoh unrealized losses yang timbul dari valuasi investasi saham/obligasi. Jika konsisten dengan unrealized gains sebagai objek PPh, unrealized losses seharusnya juga menjadi pengurang yang diperbolehkan (allowable deductions) saat penghitungan PPh badan 2020.

Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Rupiah Menguat ke Rp14.110

0

Jakarta, CNN Indonesia –Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.110 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (23/2) pagi. Posisi tersebut menguat 0,05 persen dibandingkan perdagangan Senin (22/2) sore di level Rp14.117 per dolar AS.

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,10 persen, dolar Singapura menguat 0,17 persen dan dolar Taiwan menguat 0,07 persen.

Kemudian, peso Filipina menguat 0,07 persen, rupee India menguat 0,21 persen, yuan China menguat 0,16 persen, ringgit Malaysia menguat 0,14 persen, dan bath Thailand terpantau menguat 0,02 persen. Hanya won Korea Selatan yang terpantau melemah 0,01 persen.

Sementara itu, mata uang di negara maju bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,14 persen dan dolar Australia melemah 0,21 persen. Sedangkan dolar Kanada menguat 0,22 persen dan franc Swiss menguat 0,12 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan dolar AS terpantau melemah sejak tadi malam dan pagi ini masih terlihat melemah terhadap nilai tukar lainnya termasuk nilai tukar regional. Pelemahan dolar AS ini terpicu oleh sentimen pemulihan ekonomi global.

“Rupiah kemungkinan bisa menguat terhadap dolar AS hari ini dengan sentimen tersebut,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Selain itu, penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke 1,36 persen.

“Potensi pergerakan rupiah hari ini di kisaran Rp14.050 per dolar AS sampai Rp14.130 per dolar AS,” pungkasnya.

Masih Resesi! Pertumbuhan Ekonomi RI Q1-2021 Negatif 0,74%

0

Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia periode kuartal I-2021. Hasilnya, ekonomi Tanah Air masih tumbuh negatif alias terkontraksi.

Pada Rabu (5/5/2021), Kepala BPS Suhariyanto menyebut Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tiga bulan pertama 2021 tumbuh -0,96% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq). Sementara dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy) , ekonomi Indonesia tumbuh 0,74-%.

Realisasi ini tidak jauh dari ekspektasi pasar. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan PDB terkontraksi 1,09% qtq, sementara secara tahunan diperkirakan terjadi kontraksi 0,87% yoy.

Dengan demikian, kontraksi PDB Indonesia genap terjadi selama empat kuartal beruntun. Artinya, Indonesia masih terjebak di ‘jurang’ resesi ekonomi.

“Perekonomian global menunjukkan perbaikan menggembirakan, salah satunya peningkatan PMI (Purchasing Managers’ Index) global. Vaksinasi sudah dilakukan di beberapa negara.

“Ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia menunjukkan perkembangan bagus. Tiongkok pada triwulan I-2021 tahun ini tumbuh impresif. Amerika Serikat tumbuh 0,4%, Singapura 0,2%.

“Selama triwulan I, inflasi hanya 1,37% yoy. Selama pandemi terjadi pelambatan inflasi di berbagai negara, bahkan ada yang mengalami deflasi karena mobilitas berkurang dan roda ekonomi bergerak lamban sehingga berpengaruh ke pendapatan dan permintaan,” jelas Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto.

BI Catat Aliran Modal Asing Masuk Rp7,55 T Pekan Ini

0

Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing beli bersih (net buy) sebesar Rp7,55 triliun. Hal ini berdasarkan data transaksi 12 Juli-15 Juli 2021.
Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan aliran modal asing ini terdiri dari surat berharga negara (SBN) sebesar Rp5,73 triliun dan saham sebesar Rp1,82 triliun.

Sementara, aliran modal asing tercatat net buy sebesar Rp860 miliar dari awal tahun hingga 15 Juli 2021.

“Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), non residen beli neto Rp860 miliar,” ucap Erwin dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (16/7).

Hal ini membuat tingkat premi risiko Credit Default Swaps (CDS) Indonesia lima tahun naik ke level dari 76,65 basis poin (bps) menjadi 77,03 bps.

Sementara, tingkat imbal hasil (yield) SBN bertenor 10 tahun stabil di level 6,36 persen. Lalu, yield surat utang AS US Treasury 10 tahun turun ke level 1,29 persen.

Inflasi
Selanjutnya, BI memperkirakan inflasi pada pekan ketiga Juli 2021 sebesar 0,01 persen secara bulanan (month-to-month). Lalu, inflasi secara tahun kalender (year-to-date/ytd) diperkirakan 0,75 persen dan secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 1,45 persen.

Erwin menyatakan salah penyumbang utama inflasi pekan ketiga Juli 2021 adalah komoditas cabai rawit sebesar 0,03 persen secara bulanan. Lalu, tomat, kangkung, bawang merah, bayam, kacang panjang, dan rokok kretek filter masing-masing 0,01 persen secara bulanan.

“Sementara itu komoditas yang menyumbang deflasi antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, emas perhiasan, jeruk, cabai merah, dan kentang,” kata Erwin.

Ia menambahkan bank sentral akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas untuk memonitor dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Hal ini untuk menentukan langkah yang harus dilakukan oleh BI ke depannya.

Kenaikan Tarif PPN Dinilai Berisiko bagi Seluruh Sektor Ekonomi

0

JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana untuk menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 12% hingga 15%. Keputusan ini butuh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Menurut ekonom Indef Bhima Yudistira, kenaikan tairf PPN bakal memicu harga barang-barang di tengah pemulihan ekonomi sehingga memukul daya beli masyarakat. Khususnya, kalangan menengah dan bawah.

“Inflasi tercipta karena PPN akan memengaruhi harga akhir di tangan konsumen,” kata Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Jumat (21/5/2021).

Lanjutnya, bagi sektor ritel bisa menyebabkan merosotnya omzet dan berpengaruh pada tutupnya bisnis bagi mereka yang tidak mampu bersaing di tengah penyesuaian PPN. Padahal sektor ritel juga berkaitan dengan sektor lain, seperti logistik, pertanian, hingga industri manufaktur.

“Serapan tenaga kerja juga diperkirakan terpengaruh oleh kebijakan penyesuaian PPN,” bebernya.

Di negara lain seperti Jerman, Inggris, dan Irlandia selama pandemi, kebijakan penurunan tarif PPN atau VAT dianggap efektif mempercepat pemulihan daya beli dan konsumsi rumah tangga. Pemerintah harusnya mengkaji secara dalam ketimbang insentif penurunan PPH badan dan PPNBM mobil, lebih efektif justru menurunkan tarif PPN bukan malah menaikkannya. Dikhawatirkan ada dampak terhadap penurunan kepatuhan pajak.

“Seperti terjadi pada kasus kenaikan cukai rokok yang berkorelasi dengan naiknya peredaran rokok ilegal. Kalau pajak barang dinaikkan, sementara pengawasan lemah justru ada kebocoran penerimaan negara,” katanya.

Pemerintah juga memiliki opsi lain di luar menaikkan PPN untuk meningkatkan penerimaan negara. Salah satunya lewat evaluasi belanja pajak, khususnya yang diberikan ke korporasi, hingga pemajakan lebih besar terhadap harta kekayaan kelompok 20% pengeluaran paling atas.

“Penyesuaian tarif PPN terlalu berisiko bagi seluruh sektor ekonomi,” tandas Bhima.

PERKEMBANGAN INDIKATOR STABILITAS NILAI RUPIAH (11 JUNI 2021)

0

Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran Covid-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik. Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut :

A.  Perkembangan Nilai Tukar 7 –11 Juni 2021

Pada akhir hari Kamis, 10 Juni 2021

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.245 per dolar AS.
  2. Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,35%.
  3. DXY[1] melemah terbatas ke level 90,08.
  4. Yield UST (US Treasury) Note[2] 10 tahun turun ke level 1,432%.

Pada pagi hari Jumat, 11 Juni 2021

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.200 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun turun ke level 6,32%.

Aliran Modal Asing (Minggu II Juni2021)

  1. Premi CDS Indonesia 5 tahun turun ke level 73,52 bps per 10 Juni 2021 dari 75,21 bps per 4 Juni 2021.
  2. Berdasarkan data transaksi 7 – 10 Juni 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp10,54 triliun terdiri dari beli neto di pasar SBN sebesar Rp10,49 triliun, dan beli neto di pasar saham sebesar Rp0,05 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden beli neto Rp14,65 triliun.

B.   Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu II Juni 2021, perkembangan harga pada minggu II Juni 2021 masih relatif terkendali dan diperkirakan deflasi 0,09% (mtm).  Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Juni 2021 secara tahun kalender sebesar 0,81% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,40% (yoy).
  2. Penyumbang utama deflasi Juni 2021 sampai dengan minggu kedua yaitu komoditas daging ayam ras dan cabai merah masing-masing sebesar -0,09% (mtm), tarif angkutan antarkota -0,06% (mtm), cabai rawit -0,04% (mtm), bawang merah -0,02% (mtm), kelapa, tomat dan daging sapi masing-masing sebesar -0,01% (mtm). Sementara itu, beberapa komoditas mengalami inflasi, antara lain telur ayam ras sebesar 0,04% (mtm) emas perhiasan sebesar 0,03% (mtm) minyak goreng, sawi hijau, kacang panjang, nasi dengan lauk dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm).

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

Survei BI : Inflasi Pekan Pertama November 2021 0,04 Persen

0

Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi nasional akan mencapai 0,16 persen secara bulanan pada November 2021. Potensi inflasi muncul karena harga minyak goreng tengah meningkat di masyarakat.
Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan potensi inflasi ini muncul dari hasil survei pemantauan indeks harga konsumen (IHK) bank sentral nasional pada pekan pertama bulan ini.

“Penyumbang utama inflasi November 2021 sampai dengan minggu pertama, yaitu (harga) komoditas minyak goreng sebesar 0,04 persen,” ungkap Erwin dalam keterangan resmi, Jumat (5/11).

Untuk diketahui, harga minyak goreng memang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat rata-rata harga minyak goreng kemasan merek 1 naik 28 persen menjadi Rp18.050 per kilogram (kg) pada hari ini.

Begitu juga dengan rata-rata harga minyak goreng kemasan merek 2 meningkat 0,28 persen menjadi Rp17.600 per kg. Namun, rata-rata harga minyak goreng curah stagnan di Rp17 ribu per kg.

Selain dari minyak goreng, potensi inflasi juga berasal dari kenaikan harga cabai merah sebesar 0,03 persen, daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing sebesar 0,02 persen, serta sabun detergen bubuk dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01 persen.

Kendati begitu, ada beberapa harga komoditas yang justru menurun alias menyumbang deflasi. Misalnya, harga bawang merah, tomat, dan cabai rawit yang masing-masing turun 0,01 persen.

Sementara secara tahun berjalan, BI memperkirakan inflasi akan berada di kisaran 1,09 persen pada Januari-November 2021 dan mencapai 1,54 persen secara tahunan bila dibandingkan dengan November 2020.

PERUBAHAN IKLIM, DIGITALISASI DAN INKLUSIFITAS MENJADI FOKUS PERTEMUAN TAHUNAN INTERNATIONAL MONETARY FUND DAN WORLD BANK TAHUN 2021

0

No.23/ 267/DKom

Pemulihan perekonomian global terus berlanjut, meskipun masih terdapat kesenjangan antar negara akibat perbedaan akses terhadap vaksin dan ruang untuk dukungan kebijakanSecara global pemulihan menghadapi berbagai faktor risiko, terutama kekhawatiran cepatnya penyebaran varian Delta dan kekhawatiran munculnya varian virus baru yang lebih agresif sehingga ketidakpastian outlook perekonomian meningkat. Selain itu, perubahan iklim dan reformasi digital juga muncul sebagai tantangan besar secara global. IMF berkomiten untuk terus mendukung negara-negara anggotanya untuk menghadapi tantangan yang berkembang.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Wajiyo menekankan pentingnya pelaksanaan exit strategy yang well calibrated, well planned, dan well communicated untuk memastikan seluruh negara dapat pulih secara bersama-sama. Hal tersebut dibahas dalam rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank), termasuk di dalamnya pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara G20 yang diselenggarakan secara hybrid pada tanggal 11-15 Oktober 2021, dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati.

IMF memproyeksikan perekonomian global tumbuh sebesar 5,9% pada tahun 2021, kemudian mengalami moderasi pertumbuhan ke 4,9% pada tahun 2022. Revisi ke bawah pertumbuhan 2021 mencerminkan penurunan pertumbuhan di negara maju, karena adanya disrupsi pasokan, dan di negara low-income developing, karena memburuknya dinamika pandemi. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan akan ditopang oleh menguatnya prospek jangka pendek negara eksportir komoditas dari kelompok negara berkembang.

Dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 pada 13 Oktober 2021 yang merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, delegasi Bank Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati dan Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyampaikan pentingnya upaya global untuk mengatasi pandemi dan melanjutkan reformasi struktural guna mendorong pemulihan ekonomi yang lebih resilien, berkelanjutan dan inklusif. Pada kesempatan tersebut Deputi Gubernur BI juga menyampaikan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di tengah ketidakpastian perkembangan pandemi dan kenaikan inflasi di negara maju yang berpotensi menimbulkan efek rambatan kepada negara berkembang. Untuk itu, diperlukan koordinasi dan komunikasi kebijakan pada tataran global untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap perkembangan dan kebijakan yang diimplementasikan. Dalam kesempatan tersebut Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo juga menyampaikan pentingnya melanjutkan upaya bersama dalam meningkatkan efisiensi cross border payment dan melanjutkan diskusi mengenai dimensi makrofinansial dan aspek interoperability dari Central Bank Digital Currency. Indonesia juga menyampaikan dukungan terhadap program IMF guna membantu negara miskin dan rentan dalam mengatasi pandemi dan mengatasi permasalahan ekonomi yang dihadapi.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Keuangan RI menyampaikan rencana Presidensi G20 Indonesia yang akan mengangkat tema ‘Recover Together and Recover Stronger’ untuk mengatasi tantangan global dalam mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan yang berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas, resiliensi, stabilitas, ekonomi hijau, dan ekonomi inklusif.

Presidensi G20 Indonesia akan mengusung enam topik prioritas pada finance track G20, yaitu exit strategy to support recovery, addressing scaring effect to secure future growth, payment system in digital era,sustainable finance, financial inclusion dan international taxation. Presidensi G20 Indonesia juga akan melanjutkan pembahasan beberapa topik legacy seperti global economy and risk monitoringglobal financial safety net, capital flows, data gap initiative, financial sector regulation, debt sustainability, infrastructure investment, multilateral development banks, pandemic preparedness, dan compact with Africa. Delegasi Indonesia juga melakukan serangkaian pertemuan dengan beberapa negara G20 untuk menjelaskan rencana Presidensi G20 Indonesia dan juga memperoleh dukungan untuk kelancaran pelaksanaan Presidensi pada tahun 2022.

Presidensi G20 Indonesia pada finance track yang diwakili oleh Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia akan dimulai dengan pertemuan Finance and Central Bank Deputies Meeting (FCBD) pada 9-10 Desember 2021 di Bali.

OJK Dorong Potensi Ekonomi Alternatif Baru Sesuai Keunggulan Daerah

0

balitribune.co.id | Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan hingga data April 2021 masih solid dengan indikator permodalan dan likuiditas yang tersedia serta risiko kredit yang terjaga. Pemulihan ekonomi global terus berlanjut seiring pulihnya aktivitas perekonomian negara ekonomi utama dunia.  Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo dalam siaran persnya yang diterima Bali Tribune, Minggu (30/5) menyampaikan di domestik, indikator perekonomian seperti sektor rumahtangga dan korporasi mengindikasikan perbaikan. Mobilitas penduduk di kuartal ke-2 meningkat signifikan yang diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi.

Ia menjelaskan, OJK terus menjaga sektor jasa keuangan tetap stabil ditengah upaya pemulihan ekonomi nasional dengan senantiasa bersinergi bersama para pemangku kepentingan dalam mengeluarkan berbagai kebijakan.  OJK juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui menerbitkan kebijakan yang membantu mempercepat pemulihan ekonomi serta mendorong potensi ekonomi alternatif baru sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah. Pertumbuhan kredit hingga April masih terkontraksi sebesar 2,28 persen (year on year/yoy). Namun, kredit konsumsi mulai tumbuh positif 0,31 persen (yoy) sejalan dengan meningkatnya proporsi pengeluaran konsumsi terutama didorong oleh kredit pemilikan rumah (KPR) sebagai hasil dari kebijakan stimulus pemerintah, OJK dan Bank Indonesia dalam penyaluran KPR. Kredit sektor pariwisata juga tercatat tumbuh sebesar 5,99 persen ditopang kenaikan kredit pada restoran/rumah makan 10,53 persen/mtm dan angkatan laut domestik 1,24 persen/yoy. 

“Secara ytd pertumbuhan kredit masih positif, terutama didorong oleh penyaluran kredit dari bank BUMN dan BPD,” terang Anto.  Kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga mulai menunjukkan perbaikan. Dari tren ini, pertumbuhan kredit Q1/2021 lebih baik dari 2020, sehingga masih terdapat ruang untuk pertumbuhan. Ruang pertumbuhan kredit juga didukung dengan suku bunga kredit yang terus turun. Hingga April suku bunga kredit modal kerja turun menjadi 9,08 persen, bunga kredit konsumsi menjadi 10,87 persen dan suku bunga kredit investasi di posisi 8,68 persen.   OJK menyatakan bahwa suku bunga bukan satu-satunya faktor penentu tumbuhnya kredit perbankan, karena pertumbuhan kredit sangat ditentukan oleh permintaan masyarakat. “Permintaan atas kredit/pembiayaan akan kembali tinggi  apabila terjadi peningkatan mobilitas masyarakat yang mematuhi protokol kesehatan. Hal tersebut didukung upaya vaksinasi yang semakin meluas untuk meningkatkan imunitas dan kesehatan masyarakat yang terjaga baik,” jelasnya.

Hubungan Artificial Intelligence Terhadap Akuntansi Millenial

0

Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menuntut seluruh bidang profesi harus dapat mengembangkan cara kerja yang lebih cepat dan tepat agar tidak tertinggal oleh zaman. Tentunya dalam hal pengambilan keputusan serta  tujuan dengan langkah yang lebih efisien. Salah satunya adalah terciptanya Artificial Intelligence (AI). 

Artificial Intelligence (AI) merupakan kecerdasan buatan manusia berupa simulasi yang terprogram dalam mesin. AI bekerja pada proses penalaran, perolehan informasi atau aturan, yang kemudian  menghasilkan output dengan cepat dan sistematis.

AI memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan. Begitu pula dalam dunia akuntansi, sebuah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari masalah keuangan secara dominan berbasis perhitungan. Dengan adanya AI lebih mempermudah seorang akuntan dalam menganalisis permasalahan secara cepat dan teliti. 

Di sisi lain, terdapat tantangan tersendiri dari kemunculan AI yaitu seorang akuntan milenial dituntut untuk lebih menguasai bidang ilmu dan skill. Akuntan milenial harus kreatif dan inovatif dalam pengembangan aplikasi laporan keuangan serta harus dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sehingga mereka mampu menunjukkan diri sebagai akuntan yang professional dan berdaya saing.

Mengapa seorang akuntan disebut milenial ? Karena selain memiliki penguasaan ilmu dan skill seorang akuntan juga harus dapat mengimbangi kemajuan teknologi yang sangat pesat agar tidak tertinggal, mengingat kemunculan AI sangat berdampak besar terhadap hampir semua sektor kehidupan. 

Apalagi pada era globalisasi sekarang ini, daya saing antarindividu semakin tinggi ditambah lagi harus bersaing dengan mesin dan peralatan canggih lainnya. Selain itu, kesiapan mental juga menjadi hal yang sangat krusial dalam menghadapi pangsa pasar. Tanpa adanya kesiapan mental yang matang, kemampuan individu tidak akan optimal.

Akuntan milenial tentunya memiliki potensi masa depan yang cerah dalam kemajuan ekonomi dimana ketekunan, semangat yang tinggi, dan optimisme patut dilandaskan dalam setiap diri individu. Hadirnya AI memang sangat mempermudah pekerjaan seorang akuntan. Namun di sisi lain, tentu terdapat beberapa kelemahannya. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Terbatas pada program yang diberikan
  • Membuat kinerja manusia menjadi menurun dalam beberapa bidang pekerjaan karena sudah digantikan oleh AI
  • Tidak memiliki kemampuan dalam mengerti akan informasi yang diterima (common sense)

Kecerdasan buatan atau AI banyak membantu pekerjaan kita dan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentunya AI akan terus berkembang dan lebih pintar lagi dengan berbagai perbaikan dan pengembangannya, walaupun masih terdapat beberapa kekurangan atau kelemahannya karena pada dasarnya tidak ada yang dapat melampaui kecerdasan manusia secara mendetail dan sempurna.