Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi nasional akan mencapai 0,16 persen secara bulanan pada November 2021. Potensi inflasi muncul karena harga minyak goreng tengah meningkat di masyarakat.
Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan potensi inflasi ini muncul dari hasil survei pemantauan indeks harga konsumen (IHK) bank sentral nasional pada pekan pertama bulan ini.

“Penyumbang utama inflasi November 2021 sampai dengan minggu pertama, yaitu (harga) komoditas minyak goreng sebesar 0,04 persen,” ungkap Erwin dalam keterangan resmi, Jumat (5/11).

Untuk diketahui, harga minyak goreng memang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat rata-rata harga minyak goreng kemasan merek 1 naik 28 persen menjadi Rp18.050 per kilogram (kg) pada hari ini.

Begitu juga dengan rata-rata harga minyak goreng kemasan merek 2 meningkat 0,28 persen menjadi Rp17.600 per kg. Namun, rata-rata harga minyak goreng curah stagnan di Rp17 ribu per kg.

Selain dari minyak goreng, potensi inflasi juga berasal dari kenaikan harga cabai merah sebesar 0,03 persen, daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing sebesar 0,02 persen, serta sabun detergen bubuk dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01 persen.

Kendati begitu, ada beberapa harga komoditas yang justru menurun alias menyumbang deflasi. Misalnya, harga bawang merah, tomat, dan cabai rawit yang masing-masing turun 0,01 persen.

Sementara secara tahun berjalan, BI memperkirakan inflasi akan berada di kisaran 1,09 persen pada Januari-November 2021 dan mencapai 1,54 persen secara tahunan bila dibandingkan dengan November 2020.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of