oleh : Muhammad Grediansyah Gherniwan

Perekonomian suatu negara dapat menjadi variabel untuk menentukan apakah negara itu masuk ke dalam negara yang maju atau berkembang. Masyarakat hidup dengan makmur dan sejahtera, pertumbuhan ekonomi meningkat, dan memiliki teknologi yang canggih untuk membantu segala aktivitas menjadi dambaan yang ingin dicapai oleh setiap negara. Namun, keadaan yang sekarang dirasakan ini cukup menguji kemampuan setiap negara dalam memperoleh dambaan tersebut. Perekonomian terpukul dengan telaknya oleh pandemi Covid – 19. Adanya hambatan dan rintangan, seperti resesi ekonomi, membuat banyak negara berfikir ulang bagaimana caranya untuk bisa bertahan dan keluar dari zona yang tidak bersahabat ini. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia pun tak luput dari resesi. Namun, Indonesia masih bisa bangkit. Inovasi yang diberikan oleh para milenial yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, seperti layanan digital, yang dipadukan dengan ekonomi kreatif mampu memapah pertumbuhan ekonomi untuk kembali pulih.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukan adanya kontraksi berturut – turut. BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 sebesar -5,32%. Kemudian, dilanjutkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 adalah -3,49%,. Pada kuartal IV/2020 tercatat tumbuh sebesar -2,19%. Pihak ekonom dari Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, memprediksi bahwa pada kuartal I/2021 masih akan terjadi kontraksi sebesar -0,85%. Walaupun demikian, pemulihan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sudah mulai terlihat, dengan kata lain masih bisa tumbuh walaupun terkontraksi. Tak bisa kita pungkiri, kenaikan yang terjadi secara bertahap itu dibantu oleh peranan dari kemajuan teknologi.

Layanan digital yang disuguhkan dapat menjadi alternatif bagi pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Ekonomi digital, sebagai bentuk kolaborasi antara kegiatan ekonomi dan layanan digital, dinilai mampu untuk menopang perkenomian di Indonesia. Aris Kurniawan, Koordinator Pemberdayaan Kapasitas TIK Kemkominfo, dalam Webinar Menjaga Ekonomi di Tengah Pandemi mengatakan bahwa ekonomi digital telah membuat aktivitas yang dilakukan menjadi lebih efisien, ramah inovasi, dan bisnis modelnya beraneka ragam. Memang yang diungkapnya itu benar. Ekonomi digital dapat menciptakan tempat untuk kita berbisnis dengan mendobrak segala keterbatasan di saat pandemi seperti ini. Ekonomi digital memungkinkan kita untuk bertransaksi, jual-beli, dan berbisnis kapanpun dan dimanapun. Fleksibilitas yang ditawarkan dapat membuat perekonomian di Indonesia jalan kembali.

Kontribusi generasi muda dengan memadukan ekonomi kreatif dengan layanan digital menjadi salah satu komponen yang dapat mendongkrak perekonomian di Indonesia. Ekonomi kreatif dapat dikatakan sebagai suatu konsep yang terdapat dalam bidang perekonomian yang mengutamakan kreativitas dan informasi. Contoh dari usaha yang termasuk ke dalam ekonomi kreatif ini di antaranya kerajinan, layanan periklanan, desain, fashion, musik, film, videografi, dan masih banyak lagi. Ekonomi kreatif menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkarya. Marnia, Kepala Seksi Bina Kewirausahaan Pemuda, mengatakan bahwa ekonomi kreatif yang dikembangkan anak – anak muda mampu menyumbang 7% perekonomian nasional. Ignatius Untung, Ketua Umum Associate E-Commerce Indonesia, mengakui bahwa kelompok pasar terbesar jual-beli online di Indonesia terdiri dari generasi milenial dan gen-Z. Bisa kita bayangkan apabila ekonomi kreatif tersebut dikembangkan lagi dengan layanan digital yang ada, ditambah pula dengan penggunaan teknologi paling banyak dipegang oleh para generasi muda tentu akan menambah dan memperbesar lagi peluang terhadap pertumbuhan perekonomian di Indonesia.

Dengan tersedianya berbagai jenis platform e-commerce, masyarakat akan dapat dengan mudahnya mengembangkan bisnis mereka. Dengan adanya perantara marketplace seperti Lazada, Shopee, dan yang lainnya, memungkinkan penjual dan pembeli melakukan kegiatan ekonomi tanpa terhalang oleh jarak ataupun keterbatasan waktu. Jangkauan yang dapat diraihnya luas, kemudahan dalam mengelola transaksi dan pengiriman, dan kerja dari manapun merupakan kemudahan – kemudahan yang ditawarkan bagi para pelaku ekonomi, khususnya generasi muda yang sedang mengembangkan ekonomi kreatif, dari teknologi digital yang semakin mutakhir. Agus Suparmanto, Menteri Perdagangan, mengemukakan bahwa e-commerce menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan untuk menghadapi dampak pandemi. Ia juga mengatakan bahwa keberadaan dari e – commerce ini memberikan angin segar bagi ekonomi di masa pandemi. Pemerintah menilai bahwa e – commerce ini sangat mendukung terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam menjaga protokol kesehatan dan tetap dapat menggerakan sektor ekonomi di Indonesia, tidak terhambat. Berdasarkan laporan dari e-Conomy SEA yang telah disusun oleh Google, Temasek, dan Brain & Company di sepanjang tahun 2020, menunjukan bahwa Indonesia tetap menjadi pasar ekonomi internet terbesaar di Asia Tenggara, mencapai 124 miliar dolar AS atau Rp 1.762 Triliun. Salah satu sektor dari ekonomi internet ini yang tumbuh pesar di Indonesia adalah pertumbuhan e-commerce, naik 54% ke angka 32 miliar dolar AS, dari yang sebelumnya 21 miliar dolar AS pada 2019.

Pandemi Covid – 19 memang tidak bisa terelakkan tapi bukan berarti kita harus kalah begitu saja. Perekonomian di Indonesia masih bisa tumbuh. Peran dari para generasi muda yang ada disertai dengan pemikiran mereka yang kreatif dan inovatif dapat turut serta memapah laju pertumbuhan ekonomi di negara ini. Ekonomi kreatif adalah salah satu contoh kontribusi generasi milenial. Ketika kita bisa memadukan ekonomi kreatif tersebut dengan potensi dari kemajuan teknologi, seperti layanan digital (e-commerce sebagai wadahnya), maka peluang pulihnya keadaan ekonomi saat ini akan semakin besar dan semakin cepat teratasi. Perekonomian Indonesia pun akan kembali normal.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of