Disusun oleh : Putri Jati Cahya Dewi

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan penurunan dalam berbagai sektor. Salah satunya sektor ekonomi mikro yang tidak lain disini adalah para pelaku UMKM. Menurut Kemenkop UKM, terdapat sekitar 37 ribu UMKM yang memberikan laporan bahwa mereka terdampak sangat serius dengan adanya pandemi ini ditandai dengan; sekitar 56% melaporkan terjadinya penurunan penjualan, 22% melaporkan permasalahan pada aspek pembiayaan, 15% melaporkan pada masalah distribusi barang, dan 4% melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku mentah. Selain itu, Pandemi Covid-19 juga berdampak terhadap sektor pariwisata. Dimana sektor pariwisata tersebut secara tidak langsung juga akan berdampak terhadap sektor UMKM. Berdasarkan data yang diolah P2E LIPI, dampak penurunan pariwisata terhadap UMKM yang bergerak dalam usaha makanan dan minuman mikro mencapai 27%. Sedangkan dampak terhadap usaha kecil makanan dan minuman sebesar 1,77%, dan terhadap usaha menengah berada di angka 0,07%.

Padahal Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat strategis dalam perekonomian Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia tahun 2018 menunjukkan jumlah unit usaha UMKM 99,9% dari total unit usaha atau 62,9 juta unit. UMKM menyerap 97% dari total penyerapan tenaga kerja, 89% di antaranya ada di sektor mikro, dan menyumbang 60% terhadap produk domestik bruto (Kemenkop dan UMKM, 2018). Lantas, bagaimana jika UMKM yang telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia tersebut, menjadi terancam eksistensinya akibat adanya pandemi Covid-19 ini?

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu adanya pembentukan sebuah komunitas yaitu komunitas Digikm. Komunitas Digikm merupakan sebuah wadah atau tempat untuk membantu serta mewadahi proses digitalisasi terhadap UMKM. Pengertian digitalisasi itu sendiri menurut Marilyn, digitalisasi adalah proses konversi dari segala bentuk dokumen tercetak atau yang lain ke dalam penyajian bentuk digital (Deegan, 2002: 38). Sedangkan menurut Feather, digitalisasi sebagai transkripsi data ke dalam bentuk digital sehingga dapat diproses dengan menggunakan komputer (Feather, 1996: 14). Sedangkan maksud dari digitalisasi UMKM ini merupakan sebuah upaya untuk mengubah UMKM agar beralih menggunakan teknologi, baik dalam proses produksi, distribusi, maupun pemasaran. Karena seperti yang kita ketahui, realita yang terjadi dilapangan saat ini adalah kebanyakan UMKM masih menggunakan cara kuno dalam menjalankan usahanya.

Disini saya mengambil satu contoh UMKM yang bergerak dibidang kuliner, yaitu produksi makanan ringan sale pisang. UMKM ini, dalam memproduksi sale pisang tersebut masih menggunakan cara yang sangat tradisional. Tahapan yang dilakukan mulai dari penyortiran pisang, sampai dengan pengemasannya pun masih menggunakan cara tradisional. Bahkan untuk proses pemasarannya, UMKM ini tidak menggunakan strategi-strategi tertentu seperti yang ada saat ini. UMKM ini memasarkan produknya secara tidak langsung atau dari mulut kemulut (WOM/Word Off Mouth), artinya pembeli mengetahui produk tersebut dari orang yang sudah pernah membelinya. Cara pemasaran seperti ini terbilang cukup klasik atau kuno. Sedangkan saat ini, zaman sudah semakin canggih dan teknologi pun sudah berkembang sangat pesat. Tetapi, kebanyakan dari UMKM masih belum menggunakan internet atau teknologi tersebut dalam menjalankan usahanya. Alasan yang paling mendasar adalah karena mereka tidak tahu cara penggunaannya. Hal ini terbukti dari survei APJII tahun 2019-2020 (Q2), bahwa sebanyak 10,2% dari jumlah penduduk di Indonesia tidak menggunakan internet dikarenakan tidak tahu cara menggunakan teknologinya.

Melihat dari fakta tersebut, pelaku UMKM disini harus belajar bagaimana penerapan internet atau teknologi kedalam usahanya agar mereka mampu bersaing secara lebih luas dan dapat tetap bertahan ditengah pandemi. Disinilah komunitas Digikm berperan dalam proses digitalisasi tersebut. Poin penting yang akan menjadi titik fokus disini adalah kegiatan marketing/pemasaran. Cara digitalisasi untuk kegiatan pemasaran, dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan platform-platform marketplace; Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dll, dan juga dapat memanfaatkan media sosial yang ada. Kemudian, peran komunitas Digikm disini adalah membantu proses pembuatan serta pengelolaan akun marketplace atau media sosial yang akan digunakan.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah :

1. Menyiapkan data-data profil UMKM;

2. Membuat akun;

3. Mengunggah produk;

4. Mengelola akun marketplace dengan cara melakukan berbagai strategi.

Strategi yang dimaksud yaitu, melakukan pemasangan iklan di marketplace tersebut agar dapat menjangkau pelanggan secara lebih luas lagi. Untuk tata cara mengatur iklan ini, bisa diadakan pelatihan khusus untuk membahasnya. Nantinya, Komunitas Digikm yang mengadakan pelatihan tersebut melalui kerjasama dengan dinas terkait, misalnya dinas Koperasi dan UKM ataupun pemerintah setempat.

Selain marketplace, Komunitas Digikm juga nantinya akan membuatkan akun media sosial untuk para UMKM. Kemudian, Komunitas Digikm yang akan mengelola akun tersebut. Disamping itu, Komunitas Digikm juga melatih para pelaku UMKM untuk dapat mengelola akun marketplace dan media sosial yang telah dibuatkan sebelumnya. Kemudian, untuk menambah skill para pelaku UMKM dan untuk dapat memaksimalkan omset, Komunitas Digikm dapat mengadakan berbagai pelatihan ataupun seminar. Dimana pembicaranya adalah orang dari luar komunitas yang memang expert dibidangnya. Misalnya, pelatihan tentang digital marketing, bagaimana cara membuat copywriting yang menarik, cara membuat layout Instagram yang baik, cara memaksimalkan postingan di Facebook, dan masih banyak pelatihan-pelatihan lainnya.

Semua pelatihan tersebut tentu akan sangat bermanfaat bagi para pelaku UMKM. Internet ataupun media sosial memang banyak memberikan dampat positif bagi para pelaku usaha jika mereka dapat memanfaatkannya dengan baik dan memahami ilmunya. Dengan menggunakan internet atau media sosial, UMKM dapat terhubung secara langsung dengan UMKM-UMKM lain yang saling membutuhkan, terutama ditengah pandemi seperti ini.

Pandemi telah membuat hampir seluruh sektor perekonomian ambruk. Tidak ada satupun negara yang dapat memprediksi kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Cara sederhana dalam beradaptasi dan menghadapi pandemi ini adalah dengan menyiapkan strategi-strategi jangka pendek ataupun jangka panjang. Salah satunya adalah dengan strategi digitalisasi UMKM ini. Jika kita menyusun strategi-strategi untuk mengembangkan UMKM, saya yakin UMKM tersebut dapat tetap bertahan dan bangkit kembali. Dengan bangkitnya UMKM, maka perekonomian Indonesia pun akan ikut bangkit.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of