“Biarkan aku sembuh, atau buat aku mati sekalian, Tuhan”. Itulah kata-kata yang sering aku adukan pada-Nya akhir-akhir ini. Berada di antara hidup dan mati itu bukan sebuah kenyataan yang membahagiakan.
Waktu sudah menunjukkan jam 9 sepertinya. Karena dokter sudah datang untuk memeriksaku. Saat itu aku mendengarnya berbicara pada ibu, aku akan memeriksa anakmu setiap jam 9 pagi. Tapi, sepertinya saat ini dokter yang memeriksaku tidak sendiri, dia ditemani seseorang dan entah siapa. Selesai memeriksa, dokter itu langsung pergi lagi. Tapi, tidak dengan seseorang yang mengikutinya. Dia menghampiri, menyimpan kedua tangannya di tempat tidurku.
“Rein, kau akan segera terbebas dari semua ini. Temui aku jam 3 pagi jika kau berkenan.” Aku heran dengan yang dia ucapkan, mengapa dia berbicara padaku? Dan menatap seolah-olah aku menatapnya juga. Adakah dia melihat mataku yang terbuka, meski sebenarnya tidak? Lalu bagaimana dengan jam 3 pagi? Aku sungguh penasaran, tapi bagaimana caraku menemuinya? Jangankan bangun, bergerak saja aku tak mampu. Tubuhku seakan membatu, menyatu dengan kapuk-kapuk kasur ini. Hampir 2 bulan aku di sini, setia berteman dengan ketidakpastian.
Aku berusaha agar tetap terjaga meski tubuhku terlihat tak pernah bangun. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Orang itu datang ke kamarku mengajakku ke suatu tempat. Aku terbangun. Ya, aku berjalan dan aku melihat aku yang lain terlelap di atas kasur itu. Aku mengikutinya, sampai ia mempersilakanku masuk ke sebuah ruangan. Kubuka pintu ruangan itu. Ruangan itu tiba-tiba berputar dan menjadi remang. Hanya bantuan seberkas cahaya lampu tempel di dinding. Lorong yang begitu panjang, sepertinya. Aku terus berjalan menyusurinya, semakin jauh semakin mengecil. Aku tak mungkin kembali, lampu-lampu yang sudah kulewati selalu mendadak mati. Aku terus berjalan tegak, membungkuk, jongkok, ini sudah terlalu kecil, aku tak mampu merayap. Aku merasa sangat ketakutan. Duduk seperti bayi memeluk kedua lutut dan air mata mengucur semakin deras. Aku terdiam. Tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba saja seluruh ruangan penuh dengan tulisan-tulisan. Huruf-hurufnya menyala dan begitu rapat. Satu kalimat dapat terbaca, “AKU ADA KETIKA KAU ADA”. Tiba-tiba saja aku terjatuh, seperti terjun di sebuah perosotan di Waterboom yang begitu licin. Keluar dari sebuah terowongan dan mendapati cahaya yang benar-benar terang. Syukurlah, aku masih bisa melihat dunia. Tapi, mengapa aku ada dalam tubuh seorang bayi? Tiba-tiba lubang hitam di dinding muncul, lalu menyedotku dengan kuat. Tak ada gunanya berteriak, suaraku bahkan hilang.
Aku berhasil tersadar dari mimpiku. Ah, tapi apa itu mimpi? Aku mendapati ibu sedang bicara dengan dokter, “Bu, aku serahkan semua kepada Ibu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.” Pipi ibuku kembali dibanjiri air mata. Memukul-mukul dadanya. Ayahku terlihat dari balik kaca pintu, hanya menatap kosong. “Dok, tetaplah berusaha, anak semata wayangku tak boleh dibiarkan tanpa perjuangan,” sambil terbata-bata menahan kesakitan.
“Permisi, Bu. Saya akan kembali besok.”
Ibuku ikut pergi mengikuti dokter itu. Seragam yang mereka kenakan ketika akan menemuiku, tak pernah berubah. Juga raut wajah ibu yang tak pernah berubah, selalu ada genangan di kedua matanya.
“Bagaimana perjalananmu tadi malam? Jangan lupa, tak berubah, tetap jam 3.” Orang itu langsung pergi setelah berbicara padaku. Aku masih penasaran, dan aku akan ikuti permainannya.
Malam ini aku akan kembali terjaga. Orang itu kembali. Kali ini, dia tak mengajakku pergi, hanya aku disuruhnya supaya tertidur jika ingin mengikuti perjalanan berikutnya. Dia sebut ini sebuah perjalanan, walau bagiku ini seperti sebuah permainan. Aku menurutinya, membenamkan diri membiarkan pikiranku benar-benar tidur. Sampai akhirnya aku terbangun dan mendapatiku berada di ruangan bayi. Dibiarkannya dalam tabung kaca.
Aku berteriak karena terkejut. Tapi, teriakkan itu malah terdengar seperti tangisan. Seorang suster menunjuk ke arahku. Terdengar dia berbicara, sambil mengangkatku dari kotak kaca itu, “Beruntunglah bayi ini bisa bertahan begitu lama. Ya, meski harus lama sekali menginap di sini.” Aku tak nyaman berada di gendongannya, risih rasanya. Apalagi keadaanku telanjang seperti ini. Semakin lama suara dari mulutnya semakin mengecil dan menghilang meski bibirnya terus bergerak. Beberapa huruf keluar dari mulutnya, mendarat di dahinya dan berbaris membentuk kalimat “AKU TUMBUH BERSAMAMU”. Aku kembali ketakutan dan berteriak, namun tampaknya teriakanku masih sama, terdengar seperti tangisan. Suster itu terlihat semakin menakutkan ketika aku hendak meraih wajahnya dengan tanganku, tiba-tiba lubang hitam di dinding itu kembali muncul dan berhasil menarikku.
Ketika aku tersadar, kudapati diriku sudah kembali di ranjang. “Nak, kau akan bangun lagi. Ibu yakin.” Aku benar-benar terluka. Tak bisa menahan semua air mata ini. Aku menangis, berteriak sebisa mungkin. Meski itu percuma. Tiba-tiba ibuku menatapku seolah-olah terkejut, dan langsung berlari. “Dokter! Dokter! Anak saya bereaksi, dia menangis.” Terdengar jelas suara kebahagiaan yang keluar dari mulut ibuku. Tapi orang itu kembali datang, dan mengingatkan aku untuk bertemu kembali jam 3 pagi. Aku sudah muak dan tak akan menurutinya malam ini. Aku akan berusaha agar aku tidur lelap malam ini dan tak mau menurutinya.
Ibuku kembali dengan dokter yang biasa merawatku. Dokter itu memeriksaku. Mengecek detak jantungku, membuka-buka mataku, mengontrol tensi darahku. Pandangannya berpindah pada monitor sebuah komputer, yang menandakan keberadaanku di dunia masih bisa diakui.
“Tapi, Bu. Tak ada yang berubah, tubuhnya tak menginformasikan perkembangan apa pun.”
“Tapi dia bisa menangis, Dok. Saya tidak berbohong. Saya melihatnya mengeluarkan air mata.”
“Ibu harus tetap bersabar, dan terus berdoa.”
Benar saja, dokter itu tak bisa melihatku menangis, atau melihat pipiku basah. Karena orang itu berhasil mendatangkan kemarau di wajahku.
Usahaku untuk tidur lelap gagal. Dengan penuh penasaran, aku menarik kata¬-kataku tadi. Aku akan kembali menemuinya, atau sebaliknya dia yang akan menemuiku seperti biasanya. Pagi ini, dia memintaku untuk pergi ke sebuah ruangan dekat taman bayangan. Taman yang entah di mana keberadaannya. Namun, aku sudah diberi petunjuk sebelumnya. Taman itu masih di sekitar rumah sakit ini, katanya. Dari gerbang utama rumah sakit, aku hanya perlu berjalan lurus, lalu belok kanan ketika aku menemukan sebuah perempatan, lalu terus berjalan lurus, karena ujung jalan itu akan mengarah ke sebuah ruangan. Aku memasuki ruangan itu. Kulihat, tak ada taman di sana. Hanya lorong rumah sakit dengan beberapa kamar di pinggirnya. Kamar yang sudah tak terpakai lagi. Aku terus menyusuri ruangan tersebut, menaiki tangga. Tak aku temukan taman di sini. Ketika aku tak sengaja membaca nama salah satu ruangan bertuliskan “Kenanga”, aku baca lagi ruangan yang lain, Mawar, Anggrek, Kamboja, Dahlia. Aku mengerti, mungkin yang dimaksudnya taman bayangan adalah ruangan yang dinamai nama-nama bunga. Tapi, ruangan mana yang harus aku masuki? Tak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Semua ruangan gelap, hanya lampu lorong yang menyala. Aku terus menyusuri lorong ini, sampai aku temukan sebuah ruangan yang menyala, bertuliskan M TI. Sepertinya, sudah rusak.
Aku meyakinkan diriku untuk masuk ke ruangan itu. “Krek” pintu ruangan berhasil kubuka. Ruangan yang tidak asing bagiku. Aku terus-menerus mengingat ruangan ini. Kenanganku akhirnya bermain dengan sempurna. Aku melihat ketika aku di bawa ke ruangan ini sekitar 3 tahun lalu. Ya, ketika umurku baru menginjak 9 tahun. Ibuku begitu panik dan terus berbicara pada suster mengenai keadaanku. Ya, ruangan ini. Ruangan di mana aku mulai tidak yakin untuk melanjutkan hidupku, setelah dokter mendiagnosis aku mengidam penyakit aneh. Hidupku seketika hancur. Itulah sebabnya, ibu selalu menganggapku seperti bayi, katanya. Aku tak pernah diperbolehkan bepergian jika tidak dengan ibu. Makananku selalu dijaga. Di sekolah, ibu selalu mengantar dan menjemputku. Meneleponku setiap jam istirahat. Ya, memang. Tak jarang aku pingsan di sekolah, atau aku mendadak tak enak badan dan merasakan kepalaku pusing, nafasku terengah-engah. Aku selalu bertanya, apa aku sakit? Ah, kau hanya kurang makan dan kecapean, ibu bilang.
Kenangan itu bermain dengan sempurna. Aku terkulai lemas. Kujatuhkan tubuhku pada sisi tembok, menangis begitu derasnya. Aku masih melihat bayang-bayangku waktu itu. Sampai sesuatu mengejutkanku, aku melihat sebuah asap keluar dari tubuhku waktu itu. Bersamaan dengan itu aku mendengar sebuah suara “AKU TAK LAGI SEMBUNYI”. Suara yang terlihat begitu tak nyata lenyap bersama dengan asap yang pergi tertiup angin menuju ruangan lain. Aku bangkit dan mengikutinya.
Naas, ketika aku pergi menuju ruangan itu aku terperosok jatuh. Bahkan ruangan itu dalam seperti jurang. Menjatuhkan tubuhku begitu keras. Aku mendarat pada sebuah tempat tidur, yang tak biasa. Ini terlihat seperti ruangan theater dengan hanya satu kursi. Bukan, bukan kursi. Satu tempat tidur. Di sana aku diperlihatkan sebuah tayangan. Lebih mirip cerita-cerita dongeng. Peri-peri, taman langit, air terjun yang dialiri susu, pelangi, kuda poni. Semuanya begitu indah. Tayangan itu tiba-tiba berubah menjadi dasar gunung merapi yang akan meletus. Api yang meluap-luap, teriakan manusia, kebakaran dan asap yang hitam pekat. “SELESAI” tulisnya. Apa yang selesai? Film ini? Permainan ini? Tiba-tiba suara itu terdengar lagi, “AKU SUDAH MATI, PERGI, TUHANKU MENCABUT KEHIDUPANKU” aku ketakutan. Sangat ketakutan. Aku beranjak dari kasurku lalu berlari tak kenal arah. Kali ini, cahaya terang muncul di antara kegelapan, menarikku dengan kuat.
“Dokter! Dokter! Dokter!. Anakku bergerak, Dokter!” aku mendengar suara itu. kurasakan tubuhku begitu lemas, pegal rasanya. Sedikit demi sedikit, cahaya berhasil ditangkap retinaku. Kali ini, aku benar-benar melihat kembali dunia ini. Aku bisa merasakannya. Dokter itu kembali datang. Memeriksaku seperti biasa.
“Tidak ada yang bisa menduga. Tuhan memberikan kasih sayang yang lebih pada anak ini. Bahkan seluruh anggota tubuhnya kembali berfungsi. Aku akan kembali beberapa jam lagi untuk membawa hasil Laboratoriumnya. Doamu tidak sia-sia, Bu,” ucap dokter itu sambil menepuk pundak ibuku.
“Anakku, terima kasih. Ayahmu akan sangat senang dengan ini semua.”
Aku sempat melihat ibuku begitu bahagia. Orang-orang hilir mudik memasuki ruanganku, memberiku ucapan selamat dan turut berbahagia. Ya, meski pada akhirnya, aku benar-benar melihat puncak kesedihan dari kedua mata mereka. Tak butuh waktu lama, hanya 2 hari sejak kepulihanku, orang itu datang lagi, “Ini sudah waktunya, sebaiknya kita pulang sekarang. Sesungguhnya, Kau hanya sedang tamasya dari rumah Tuhan.”

Penulis : Hani Hanifah, Akuntansi 2016

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of