“Aku ini apa, hanya remah-remah rengginang yang tak dianggap ada. Segalanya sudah terlalu tinggi untuk diraih, sedang aku sudah terlalu ringkih untuk bisa menggapai lagi.”
Terus menerus kau bergumam demikian. Mematikan langkahmu sendiri, hilangkan percaya pada raga yang kau punyai. Lagi-lagi kau hapuskan semangat hanya sebab segala terasa bersekat, bagimu tak lagi ditemui hangat, entah dekap ataupun sebatas tatap. Hanya renung, terdiam dalam jeritan. Hanya lirih, tertahan semua tetesan.
Bukankah sudah ku bilang. “Kau yang seharusnya menghilang, bukan kau yang harus merasa terbuang!”
Tolong ikutlah dengan ku. Mari kita berandai-andai, sedikit saja. Benar-benar sangat sedikit. Takan aku lebih-lebihkan. Percayalah!
Karena setauku yang berlalu mesti dibiarkan berlalu, biarkan yang sekedar bertamu untuk pulang, untuk lekas hilang. Jadi pengandaian ini bukan tentang masa lalu, namun perihal waktu yang semoga saja kau jumpai hari esok denganku. Mari mulai.
Yang pertama perihal, mimpi.
Jika boleh aku tanya tentang mimpi besarmu di bumi, kira-kira apa yang berbersit di benakmu? menjadi seperti Sailor Moon, memiliki kekuatan bulan? Ataukah memiliki permadani terbang, seperti Aladin? Ayo, sebut saja.
Malu? Mengapa harus malu, mari katakan, siapa tau semesta juga mengaamiinkan. Kau berhak bermimpi, sebut saja. Ayo sebutkan satu persatu. Mungkin bukan karena malu, tapi sepertinya aku tahu mimpimu tak sekonyol yang kukatakan itu.
Kau tau, setiap mimpi pasti dibagun atas banyak pertimbangan yang besar dari dirimu. Setiap harap yang mendekap dalam diri pasti disertai tanggung jawab besar bagi dirimu. Maka beranikan, nyatakan itu!
Menjadi polisi? Pengusaha ? Dokter? Guru? Mentri Pendidikan? Seminan? Penulis terkenal? Apapun itu katakan.
Kau takut? Kau takut jatuh sebab mimpimu sendiri, apa begitu? Untuk apa, untuk apa kau takut jatuh? Sini aku tunjukan perihal betapa berharganya sebuah kata “jatuh”.
Mari kita bernostalgia sebentar saja pada masa kecil kita. Bolehkah aku bertanya, apa kau pernah belajar sepeda? Apa ibu atau ayahmu pernah membelikan lalu mengajarkanmu bermain sepeda?
Ya, lumrah sekali, apabila kita ingat masa kecil, rasanya hampir semua anak-anak pernah dibelikan sepeda oleh orangtuanya. Entah karena ia meminta, atau karena orangtuanya tak ingin anaknya kalah dari teman sebayanya. Ku kira kau juga begitu bukan?
Kau ingat tidak, dulu apa kau sempat takut untuk jatuh saat bermain sepeda? Jika kau sempat terjatuh karena bermain sepeda, apa kau berhenti begitu saja, dan tak ingin melajutkan permainannya lalu memilih untuk tertinggal dan terkalahkan oleh anak lainnya? Coba jawab. Jatuh lalu mencoba lagi, jatuh dan kembali mencoba lagi, meski harus babak belur kakimu, kau terus mencoba hingga kau benar-benar bisa mengendalikan sepedamu itu, pasti begitukan ceritamu saat belajar bermain sepeda? Pradugaku sih seperti itu ya. Dasar ya aku, so tau.
Tapi senang ya rasanya, saat kita mampu mengendalikan apa yang awalnya menguasi kita dan membuat kita jatuh. Namun ketika semua beranjak dewasa, jatuh menjadi kata yang memiliki makna begitu menyeramkan.
Mengapa saat dewasa kau takut akan kata “jatuh”?. Seolah semua manusia dewasa tak boleh terjatuh, tak boleh kalah, tak boleh gagal, dan tak boleh melakukan salah apapun. Harus selalu menjadi yang terbaik, yang paling sempurna. Jatuh selalu punya makna yang buruk rasanya.
Bukankah tak selalu demikian? Jatuh tak melulu berakhir buruk bukan? Bukankah manusia mampu belajar memperbaiki keadaan dari bangkit yang ia lakukan?
Jatuh dari mimpi-mimpi yang dimiliki, jatuh dari semua harap yang didekap, jatuh dari segala cita yang inginnya tercipta. Namun sebab jatuh, kau mesti dibuat bangkit dan meraih skenario yang lebih baik dari-Nya. Jadi jatuh bukankah anugerah?
Namun jika kau lebih memilih bangkit sebagai anugerah, bukankah takan ada kata “bangkit” sebelum jatuh mendera, sebelum gagal tercipta, sebelum kalah terasa?
Pada jatuh, kita menuai alasan mengapa mesti kembali berdiri setelahnya, kita belajar perihal seberapa besar keteguhan, seberapa penuh keikhlasan. Dan selama jatuh, lalu kemudian bangkit dengan cara yang benar, semestinya jatuh tak semenakutkan itu.
Termasuk jatuh hati, menjatuhkan hati.
Pada setiap jatuhnya tetesan hujan, tumbuh pepohonan pun rerumputan untuk berbagai macam pelengkap kehidupan. Pada jatuhnya embun di dedaunan, tumbuh kesejukan seisi semesta. Pada jatuhnya hati manusia bumi, tumbuh ruh dan raga yang berdampingan menebar segala kebaikan.
Mari jatuh bersamaku. Akan ku bangkitkan kau pada setiap mimpi di angan-anganmu yang kan menjadi nyata bukan sekedar teori semata.
Setiap manusia bumi berhak punya mimpi yang besar, bahkan lebih besar dari bumi itu sendiri. Tak apa, sungguh tak apa, bermimpilah.
Itu pengandaian yang pertama, perihal mimpi.
Yang kedua, mungkin terdengar konyol, namun tetap ingin aku lakukan pengandaian ini bersamamu. Jika kau mampu menjelajahi semesta dan seisi bumi, siapa kiranya yang ingin kau temui, lalu kau bersamai? Aku? Tentu bukan ya, hahaha.
Tapi jika kau tanya hal yang sama, aku akan menjawab. Kau, kau yang akan kutemui dan bersamai. Sebab dengan kau ingin ku ciptakan cita-cita agar tak menjadi anggan-anggan semata. Bukan hanya perihal citaku, pun perihal mimpi-mimpi yang kau miliki. Aku akan ada bersamamu, menopangmu, meski nantinya kita harus lalui jalan dan mesti terjatuh (dulu). Maka jatuhlah dan jangan pergi, sebagaimana jatuhnya tetesan hujan ketahan yang kekeringan, jatulah yang menumbuhkan. Dan setelahnya kita akan bangkit bersama, menggapai skenario lebih baik dari-Nya.
Maaf ya, pengandaianku cukup gila rasanya. Namun aku berharap itu bukan hanya andai-andaiku saja, semoga semesta dan seisinya mengaamiinkan pengandaian yang ku punya, ku harap kau juga. Boleh ya?
Tapi sepertinya aku tau jawabanmu. Kata “tidak” menjadi pilihan tepat untuk ku.
Tak apa, kan ini sekedar pengandai, sudah ku katakan pula tak akan berlebihan. Santai saja, aku menerima atas segala jawaban.
Tapi kau tau bukan, aku manusia yang cukup keras kepala untuk mencapai setiap tujuan dan pengarapan yang dipunya. Bahkan mungkin aku lebih keras dari batu-batu di jalanan. Ku rasa kau juga tau itu kan?
Aku yang selalu percaya bahwa, jika pintu-pintu lain memang terbuka, maka bukan saatnya aku kesana. Terbukalah semua jika semestinya begitu, atau tertutuplah saja. Aku takan peduli. Terserah orang menilai seberapa bodohnya aku.
Yang jelas, aku masih dan akan tetap berdiri pada pintu itu (tujuan). Terus mengetuk pemilik-Nya, hingga Dia beri restu padaku. Terbukalah, dan segala yang aku citakan menjadi kenyataan, segala harap tak sebatas bualan, dan segala yang didamba bisa ku jumpa. Semua perihal waktu dan kesabaran. Sekiranya pintu itu tak jua terbuka, tak apa. Tak akan ada sesal tercipta. Sebab manusia mesti mencoba apapun hasil yang tercipta akhirnya.
Terlihat bodoh memang. Namun setidaknya dengan begitu segala juang, usaha, serta pengorbanan yang dilakukan dalam membuka pintu akan menjadi cerita yang tak pernah habis, tak terikat pada praduga orang-orang diluar sana.
Tak ada yang salah. Lagi-lagi aku tekankan tak ada yang salah. Ini hanya masalah sudut pandang bukan?
Kukira pengandaiannya kali ini cukup ya. Aku takut kau marah, sebab sebelumnya ku bilang tak akan berlebihan, namun sepertinya sudah terlalu banyak hal yang ku sampaikan. Sampai jumpa di pengandaian lainnya. Dan aku akan lanjutkan menunggu pintu yang entah kapan diizinkan terbuka.
Tapi apa kau tau pintu itu? Pintu itu adalah, kau. Ya, kau. Maaf ya sudah terlalu lancang untuk mengharapkan!

Penulis: Dilla Amelia Septiyani, Akuntansi 2018

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of