Drrttt drrttt drrrt

“Assalamualaikum, La? apa kabar? Gimana Jepang? lagi musim salju ya?”

“Waalaikumsalam, Na. Kabarku baik. Iya, di sini lagi musim salju. Cie yang lanjut S2 di Korea.. awas itu mata di jaga. Jangan jelalatan liat oppa oppa”

“Hahaha.. Bening bening lho, Na oppa oppanya. Jadi pingin satu deh”

“Udah, fokus dulu S2 nya”

“Iya deh bu manajer. Oh iya La kapan balik ke Indonesia? dulu bilangnya di Jepang cuma S2 aja. Malah sekarang udah lulus S3 bahkan sampe kerja pun kamu tetap di sana. Jangan bilang kamu betah disana”

“Aku gak bisa ninggalin kerjaan gitu aja, Na. Apalagi posisiku di sini manajer keuangan. Kamu tahu kan Jepang disiplinnya gimana”

“Iya, La. Aku tahu. Tapi bulan September nanti aku mau nikah, La. Aku mau ditemani kamu”

“tu-tunggu, nikah? Sama siapa?”

“kang Pandji”

Deg

***

Di kafetaria itu terlihat ramai pengunjung. Bahkan sangat sulit untuk menemukan bangku yang kosong. Siswa-siswa yang baru saja selesai melaksanakan ujian pun melepaskan penatnya disini. Ada juga mahasiswa yang nongkrong atau pun nugas di perpus mini kafetaria. Maklum, jam makan siang juga.

Aqeela mengedarkan pandangan ke segala penjuru mencari sosok sahabatnya. Iambaian tangan dan teriakan memanggil “Ilaa sini” tak luput dari perhatiannya. Ia pun mengangguk dan berjalan menuju sang sahabat.

“Gila, rame bener. Gak kayak biasanya sepi” ujar Aqeela seraya menggeser kursi agar bisa duduk.

“Wajarlah.. Anak SMA kan baru selesai ujian. Ya mereka nongki nongki lah sekalian cuci mata, liat mahasiswa. Siapa tahu dapat kecengan” sahut Aina dengan kerlingan mata.

“Alahh itu kamu aja kali. Oh iya gimana beasiswanya? Kamu udah apply kesana?”

“Udah, La. Lagian bang Dhika tuh ya ngomel mulu suruh cepet apply katanya. Panas telinga tahu gak. Yang mau ke Koreanya siapa yang ngomelnya siapa” ucap Aina sembari merengut kesal.

“Hahaha ya lagian kamu nanti-nanti, kan mepet deadline. Jadinya ngomel mulu tuh abangmu”

“Idihh malah ngetawain ya. Eh eh La, kang Pandji boleh gabung sini gak?” Tanya Aina sambil menunjukkan aplikasi chat dia bersama Pandji.

“Kang Pandji? Pandji yang ketua BEM FT itu bukan?”

“Iya, kang Pandji yang itu” Jawab Aina sembari menatap Aqeela meminta persetujuan. Namun ada yang berbeda dari tatapan matanya. Tatapan matanya penuh binar pengharapan. Bukan, bukan hanya berharap di izinkan untuk gabung. Namun ada hal lain di tatapan itu. Seperti tatapan… cinta?

Belum Aqeela menjawab ia terpana pada seorang laki-laki berambut gondrong sebahu dan mengenakan kemeja datang menuju mejanya. Ia begitu terpana pada sosok itu. Senyuman yang manis juga tatapannya yang hangat benar-benar menghipnotisnya. Dia adalah Pandji Samudra, sosok yang selalu ia minta kepada Tuhannya di sepertiga malam. Tanpa Aqeela sadari bukan hanya ia yang terpana, namun Aina pun benar-benar terpana. Entah aura apa yang Pandji keluarkan hingga kedua sahabat itu jatuh cinta kepadanya.

Namun tanpa mereka sadari pula bahwa kedekatan mereka dengan Pandji Samudra menyebabkan hubungan persahabatan yang telah lama terjalin menjadi retak. Sebelumnya mereka telah mengikrarkan janji untuk tidak jatuh cinta kepada laki-laki yang sama. Namun apa daya, takdir seakan mendukung untuk menyatukan pasangan yang memang berjodoh dan melepaskan bagi yang bukan jodohnya.

Pertemuan pertama dengan Pandji di kafetaria itu terjadi secara tak sengaja. Aqeela tak sengaja menumpahkan milkshakenya ke baju Pandji karena lantai yang licin. Pertemuan itu ternyata menimbulkan benih-benih cinta pada Aqeela; bukan Pandji. Selain itu pertemuan selanjutnya, di kafetaria yang sama pun ia bertemu lagi dengan Pandji. Aqeela berharap pertemuan itu menjadi langkah awal untuk ia bisa mengenal lebih dekat dengan Pandji. Ya, mereka memang dekat. Namun hanya sebatas dekat; tidak lebih. Oleh takdir, Aqeela ternyata hanya menjadi jembatan antara kisah Aina dan Pandji.

***
Sebulan usai pernikahan megah sang sahabat; Aina Syaqina, Aqeela kembali ke Jepang. Menjalani rutinitas seperti biasa. Ia kembali menyibukkan diri demi menghapus seorang nama dihatinya; seorang yang tak kan pernah mungkin untuk dimilikinya. Karena orang itu telah dimiliki sang sahabat. Ia, si itik buruk rupa bisa apa. Hanya seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada ketua BEM FT. Sedangkan Aina sang primadona kampus. Ia hanya beruntung bisa bertemankan sang primadona. Aqeela hanya bisa terdiam dikala sang sahabat bercerita bahwa ia jatuh cinta kepada ketua BEM itu. Hatinya tersayat perih, namun Aqeela tetap setia mendengar cerita tentang kedekatan mereka. Mungkin menjauh adalah hal yang terbaik ucap Aqeela lirih.

Namun ternyata ia salah. Ia salah. Menjauh dengan menerima beasiswa S2 di Jepang tidak mengubah apapun, karena seorang Pandji Samudra tetap bertahta di hatinya.

Katakanlah ia seorang pengecut; untuk kedua kalinya pula ia kembali merantau. Selain untuk mimpinya, ia merantau karena ingin melupakan sang pujaan hati. Namun apa daya, sejauh ia melangkah tetap bayang-bayang itu mengikuti. Entah harus apa yang dilakukan Aqeela agar tidak mengingat itu. Namun, sebisa mungkin Aqeela tidak memikirkan hal itu lagi.

“Kamu di sini ternyata. Nih milkshakenya” Ujar seorang lelaki sembari menyerahkan minumannya pada Aqeela. Aqeela tersenyum dan mengambil minuman lalu menyeruputnya. Tatapannya sejenak ia kunci pada lelaki itu. Lelaki yang memiliki hobi photografer itu telah menemaninya selama di Jepang. Bahkan lelaki itu pula lah yang mau memberikan bahunya saat ia sedang terjatuh karena patah hati saat pujaan hati akan menikah dengan sahabatnya.

“Gimana pemotretannya, lancar?” tanya Aqeela sembari mengalihkan pandangannya ke sekitar. Suasana di Ueno Park saat musim semi tampak ramai. Banyak turis yang mengabadikan diri dengan berfoto bersama keluarganya berlatar belakang sakura mekar ini. Namun entah mengapa Aqeela merasa bunga-bunga sakura di sini mekar dengan rasa yang berbeda. Entah apa yang membuatnya berbeda, Aqeela tak mampu menyimpulkan.

“Lancar, La. Oh ya minggu depan gua mau balik dulu ke Indonesia. Ada hal yang harus gua urusin di sana” jawab Hikmah Andara sembari mengarahkan kameranya pada Aqeela lalu memotretnya.

Cantik

Aqeela terkejut. Tak menyangka bahwa Hikmah akan pulang ke Indonesia. Ingin bertanya, namun ia urungkan. Kesannya malah ia kepo. Akhirnya hanya anggukan yang ia berikan pada Hikmah.

“La, menurut lo kalau seorang laki-laki ngelamar cewek yang dicintainya ke orangtuanya gimana?” Tanya Hikmah.

“Ya bagus dong, itu namanya lelaki gentle. Apalagi di umur lo yang sekarang. Gak pantes rasanya pacaran-pacaran. Harusnya sekarang tuh lo udah punya anak 2–” Jawab Aqeela sembari menyeruput minumannya. “Dan inget jangan travelling mulu” Lanjut Aqeela.

“Lha kan ini hobi gua, travelling sambil motret. Siapa tahu kan diperjalanan ketemu jodoh” Ujar Hikmah menggoda Aqeela.

“Idihh bisa aja lo”

Percakapan mereka terhenti tatkala seorang anak kecil menghampiri Aqeela, memberikan bunga sakura yang telah dipetiknya. Aqeela menaikkan alisnya. Seakan mengerti bahwa wanita yang dihadapannya bingung, anak kecil itu pun berkata yang jika ditranslate ke Indonesia artinya seperti ini “Ini untuk kakak. Semoga kakak selalu bahagia dan selalu terlihat cantik seperti sakura ini” Ucapnya seraya menatap ke arah Hikmah sembari mengerdipkan matanya tanpa terlihat oleh Aqeela. Hikmah tersenyum hangat lalu mengangguk.

Hikmah mengambil sebuah kotak beludru di saku jaketnya lalu membukanya dan berlutut dihadapan Aqeela. Aqeela yang melihat pun terkejut. Ia terheran mengapa Hikmah melakukan hal itu.

“Aqeela, gua tahu lo kaget. Kenapa gua ngelakuin ini? Karena gua cinta sama lo sejak awal kita ketemu. Jujur, gua cemburu waktu lo cerita kalau ada seorang nama di hati lo. Hati gua sakit waktu lo nangis kejer saat dia nikah sama sahabat lo. Sejak saat itu gua bertekad akan selalu ada buat lo, bahagiakan lo. Jadi ditaman ini, di hadapan semua orang juga orangtua lo gua mau bilang will you marry me?” Tanya Hikmah sembari mengulurkan beludru pada Aqeela.

Aqeela benar-benar syok saat tahu Hikmah melamarnya; dihadapan orang-orang juga orangtuanya yang ternyata ada dibelakang Hikmah. Tetes demi tetes kristal bening jatuh ke pipinya. Ia menangis namun bukan tangisan kesedihan melainkan kebahagiaan. Bahagia karena ternyata inilah waktunya. Inilah waktu yang diberikan Tuhan untuk ia bahagia. Sejenak ia menatap sakura-sakura yang ada di pohon yang bergerak mengikuti angin berhembus. Ternyata inilah maksud sakura itu ucap batinnya lirih.

Ia menghapus kristal bening itu lalu menatap Hikmah sembari tersenyum lalu menjawab

“Ya aku mau”

-tamat-

Penulis : Ismi Wulandari Utami, Akuntansi 2019

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of