Alin merupakan seorang mahasiswi di salah satu Universitas di kota Jakarta. Cinta itu muncul ketika ia mengikuti salah satu organisasi kampus, hubungan antara ketua dengan sekretaris menuntun mereka untuk lebih sering berinteraksi.
…..
‘Terkadang Tuhan hanya mempertemukan, bukan mempersatukan’ tiba-tiba Alin tersadar dari lamunanya itu. Tak terasa hari mulai siang, waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Alin bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Sekitar pukul 13.30 WIB Alin sudah tiba disekre, ia akan membuat surat yang diminta oleh ketuanya. Ada beberapa orang disana, salah satunya ada ketua yang sedang duduk sambil membaca buku AD/ART kampus lain. Satu jam lebih ia baru menyelesaikan tugasnya.
“Abang, ini suratnya sudah jadi, apa masih ada yang harus diperbaiki?”
Dika mengambil surat yang Alin berikan dan mulai membacanya. Oh iya, Dika merupakan ketua di organisasi tersebut, Alin memanggil Dika dengan sebutan Abang.
“Lin, sini bawa pulpennya”.
“Iya bang sebentar”.
Alin datang membawa pulpen dan juga cap untuk surat itu. Dika menandatangi dan disusul Alin mengecap suratnya. Kemudian surat tersebut Alin berikan ke bagian Humas untuk selanjutnya dikirim ke orang yang bersangkutan.
Tak terasa hari mulai sore, Alin bersiap-siap untuk pulang ke kostannya. Sedangkan di sekre hanya tinggal Alin dan Dika saja. Kemudian Alin izin pulang, tetapi Dika memintanya menunggu sebentar dan pulang bersama.
Entah kebetulan atau bagaimana, kostan Alin dekat dengan kostan ketuanya. Sejak mereka bertemu di organisasi itu, mereka sering berangkat maupun pulang bersama. Alin yang baru pertama kali mengikuti keorganisasian sempat merasa takut untuk menjalaninya, tetapi ia memilih untuk bercerita kepada ketuanya tentang keadaan itu, respon ketuapun baik. Ia memberikan nasihat dan juga memberi dukungan kepada Alin.
Kedekatan mereka semakin hari semakin terlihat, Dikapun memperlihatkan kasih sayangnya ke Alin. Beberapa kali sering terjadi pertengkaran antara mereka. Tapi perlu diingat kedekatan mereka bukan soal hati tapi ini tentang tugas di organisasi tersebut.
…..
Pagi itu Alin ada kelas pagi, ia pergi ke kampus jalan kaki. Tak begitu jauh, hanya saja tak ada teman untuk berbincang selama perjalanan. Seperti biasa, tempat duduk sudah aman. Ada temannya yang lebih dulu datang.
Alin memiliki beberapa teman, mereka terlihat begitu dekat. Dalam hal perkuliahan mereka selalu bersama, dari mulai satu kelas hingga satu kelompok. Selain teman kuliah, mereka juga teman bermain dan berbagi cerita. Alin bersyukur memiliki teman seperti mereka, mengingat ia merupakan perantau di kota itu.
Tiba-tiba Handphone Alin bergetar, ada satu chat masuk ke Whatsappnya. Terlihat dari notifikasi, sebuah pesan dari ketuanya. Kemudian Alin membukanya, chat itu berisi sebuah perintah untuk datang ke sekre.
Alin kembali memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan mata kuliah hari itu. Tak begitu serius memperhatikan, Alin sesekali berbincang-bincang sambil tertawa pelan bersama temannya. Sampai akhirnya kelas hari itu sudah selesai, mereka saling berpamitan. Ada yang langsung pulang dan ada juga yang melanjutkan aktivitasnya di kampus.
Karena teringat pesan tadi, Alin segera pergi ke sekre. Ternyata hanya ada ketua duduk depan Komputer sendirian. Ia mengucapkan salam dan masuk. Ia melihat-melihat sekitar, biasanya ada surat masuk, tapi waktu itu tidak ada apa-apa.
Terlihat Dika sedang menggunakan komputer, mendengarkan musik dan juga membaca berita dari internet. Alinpun duduk di kursi samping Dika dan mengobrol.
“Lin entar malem temenin abang ngebandrek yu”.
Alin terdiam sebentar, kemudian mengiyakan ajakan itu. Semua sudah direncanakan dengan baik. Tinggal menunggu malam itu datang.
Hari sudah malam, Alin bersiap-siap untuk pergi. Suara motor terdengar berhenti didepan kostan Alin. Ia melihat dari jendela dengan membuka gordennya sedikit. Tepat seperti perkiraan Alin, ternyata benar itu Dika. Segera ia membuka pintu dan keluar kamar. Karena kostan Alin deket sama rumah ibu kost, iapun pamit dan meminta izin untuk keluar sebentar.
Di sepanjang jalan mereka ngobrol ringan, itupun sesekali. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya sampai ditempat bandrek itu. Dika langsung memesan untuk berdua kemudian duduk diikuti oleh Alin. Obrolan mereka random, dimulai organisasi hingga pribadi. Alin asik mendengarkan cerita Dika, dari mulai A hingga Z. Hingga sampai ke satu titik percakapan mereka.
”Alin tahu tidak kenapa abang bisa dekat sama kamu?”
“Karena Alin sama abang dituntut untuk lebih sering berinteraksi karena salah satu tugas di organisasi ini”
“Bukan, karena ketika abang melihat kamu dan sikap kamu, mengingatkan abang kepada adek cewek abang, abang begitu sayang sama dia, makanya abang juga sayang sama kamu, sebagai adek abang disini”
Alinpun terdiam. Ia bingung harus bagaimana. Beruntung malam makin larut, Dikapun langsung mengajak Alin untuk pulang.
…..
‘Abang, hari ini ada Undangan ngehadiri acara UKM Seni Musik pukul 08.00 di ruang F.14 Fakultas Ekonomi, jangan telat yaa he’, Alin mengirim pesan itu kepada Dika.
Itu salah satu tugas Alin untuk memberitahu dan mengingatkan ketuanya. Karena Alin yang bertanggungjawab terhadap surat masuk, maka ia harus menyampaikan ke orang yang bersangkutan. Dan memang hampir rata-rata surat undangan tertuju untuk ketuanya.
Berhubung tugas Alin dikostan udah selesai, ia memutuskan untuk pergi ke sekre. Sesampainya disana tidak ada satu orangpun disekre. Kebetulan hari sabtu memang tidak ada jadwal kuliah. Alin ke sekre untuk merapihkan surat masuk sebagai arsip. Sembari merapihkan, Alin juga menulisnya di buku surat masuk.
Sejam lebih Alin sendirian di sekre. Terdengar ada suaro motor berhenti didepan. Coba tebak siapa yang datang! Ya Dika, ketua Alin. Dikapun masuk dan menyapa Alin. Karena mereka sudah merasa dekat, Dika yang memang orangnya jahil terus saja mengusik Alin. Dan waktu itu juga Dika sempat nanya-nanya permasalahan Alin, hanya saja tidak Alin ceritakan masalah hati yang pernah ia rasakan. Lama-lama mereka seperti Tom and Jerry, selalu bertengkar ketika ketemu. Tapi dari kedekatan itu, Alin merasakan sesuatu yang aneh sama dirinya. Hanya saja ia menepis jauh-jauh perasaan itu.
…..
Sendiri dengan keheningan, betapa bahagianya perasaan Alin. Mungkin sedikit orang suka dengan sepi, tapi bagi Alin sendiri itu terasa tenang. Hari ini adalah hari minggu, Alin sudah selesai mengerjakan tugas-tugas kampusnya, iapun tiduran dikasur sambil mainin Handphone.
Tiba-tiba saja pikiran Alin teringat Dika, ketuanya. Ia teringat sikapnya yang hangat. Dika yang kadang memperlakukan Alin seperti anak kecil, membuat ia merasa terlindungi. Alin yang sejak dulu menginginkan seorang kakak laki-laki, akhirnya ia merasakan kasih sayang itu. Tetapi, seiring berjalannya waktu, ia tak bisa membohongi perasaannya. Ia begitu bahagia ketika sedang bersamanya. Iya, Alin sadar, kebersamaan itu tak lebih karena soal tugas organisasi. Tetapi sesekali Dika mengajak Alin makan bareng hingga lari pagi, yang tidak Dika lakukan ke anggota lainnya. Padahal sebelumnya Alin begitu cuek untuk soal hati.
Alin teringat lagi, banyak orang mengira ada hubungan lebih dengannya. Karena kedekatan mereka yang sering terlihat oleh orang lain. Terkadang ledekan teman-temannya menambah perasaan itu. Sikap Dika ke Alin yang kadang berlebih (dalam artian perlakuan lebih dari seorang teman) juga membuat Alin salah menanggapi. Alin sempat mengobrol dengan teman Dika, ternyata Dika juga memiliki perasaan yang sama ke Alin. Hanya saja semua perasaan itu mereka simpan baik-baik, karena tidak ingin merusak kedekatan yang selama ini sudah terjalin.
Tersadar dari lamunannya, Alin melanjutkan main Handphone, ia membuka Instagram, menscrol terus kebawah hingga membaca suatu quotes ‘Ada cinta segitiga antara aku, kamu dan Tuhan’. Alin kembali tersadar, walaupun mereka saling memiliki perasaan yang sama tapi sangat kecil kemungkinan untuk bisa bersama. Mereka sama-sama memiliki keyakinan yang kuat terhadap apa yang mereka percayai. Alinpun memutuskan untuk tidak terlalu jauh mengakui perasaannya itu, bahkan mencoba untuk membohongi dirinya sendiri dengan dalih bahwa ia tidak suka kepada Dika. Dan Alin dengan sepenuhnya menganggap Dika sebagai kakaknya. Sudah sepantasnya seperti itu.
…..
Memang pertemuan tidak harus selamanya bersama, sesuatu yang kita sukai tidak melulu harus dimiliki. Setelah berakhirnya periode kepengurusan, Alin sedikit demi sedikit mulai menjauhi Dika. Mengurangi interaksinya dan berkomunikasi seperlunya. Bukan Alin tidak tahu berterimakasih, hanya saja ada hati yang harus diselamatkan. Kini semua kenangan yang ada hanya menjadi kenangan manis yang Alin miliki. Terkadang Alin tersenyum dan menikmati ingatan kebersamaan itu ketika ia teringat Dika. Dan Alin berdoa, semoga Dika mendapatkan wanita yang bisa memberikan kebahagiaan untuk dirinya. Begitupun dengan Alin.

Penulis : Wida Islamiati, Akuntansi 2017

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of