Jumlah UMKM dalam pasar modal masih minim. Sosialisasi harus ditingkatkan.

Seminar Aspek Hukum Perkembangan Pelaksanaan Penawaran Umum UMKM yang diadakan oleh HKHPM, Rabu (23/10). Foto: MJR

Mochamad Januar Rizki – Perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah berkembang sangat pesat saat ini. Pemerintah memperkirakan jumlah UMKM mencapai sekitar 59 juta. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus tumbuh seirin perkembanan ekonomi nasional. Sayangya, besarnya jumlah UMKM tersebut masih jauh tersentuh dari pasar modal atau tercatat dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Padahal, dengan menawarkan sahamnya kepada publik perusahaan UMKM tersebut dapat memperoleh tambahan modal untuk mengembangkan usahanya.

Infrastruktur berupa payung hukum untuk mendorong UMKM masuk pasar modal juga telah tersedia. Aturan penawaran umum UMKM jauh lebih sederhana dibandingkan perusahaan besar dengan aset di atas Rp 250 miliar.

Terdapat dua aturan yang menjadi payung hukum UMKM dalam menawarkan saham kepada publik yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK/04/2017 tentang Pernyataan Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil atau Emiten dengan Aset Skala Menengah dan POJK 54/2017 tentang Bentuk dan Isi Prospektus Dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil atau Emiten dengan Aset Skala Menengah.

BEI juga telah memberlakukan peraturan pencatatan baru perusahaan kecil dan menengah yang ingin masuk pasar modal lewat papan akselerasi. Aturan baru tersebut tercantum dalam Peraturan Nomor I-V tentang Ketentuan Khusus Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham di Papan Akselerasi yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat (Peraturan Nomor I-V) per 22 Juli 2019.

Berdasarkan aturan tersebut perusahaan yang dapat mencatatkan saham di papan akselerasi adalah perusahaan skala kecil dengan aset kurang Rp 50 miliar dan perusahaan skala menengah dengan rentang aset Rp 50 miliar- Rp 250 miliar. Selain aset, BEI juga mengatur perusahaan tersebut tidak boleh dikendalikan langsung dan tidak langsung oleh pengendali dari emiten atau perusahaan publik. Hal ini diatur agar perusahaan besar yang memiliki perusahaan kecil tidak dapat memanfaatkan pencatatan ini untuk mencari modal.

Emiten skala kecil dapat menyertakan laporan keuangan teraudit satu tahun terakhir atau sejak berdiri sebagai persyaratan penawaran umum. Sedangkan emiten skala menengah menyertakan audit laporan keuangan selama dua tahun terkahir atau sejak berdiri. Jangka waktu tersebut lebih singkat dibanding emiten biasaya yang harus menyertakan audit laporan keuangan untuk tiga tahun terkahir dalam efek ekuitas dan audit laporan keuangan dua tahun terakhir atau sejak berdiri untuk efek utang atau sukuk.

Emiten skala kecil dapat menggunakan Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Sedangkan emiten skala menengah disyaratkan menggunakan SAK dalam audit laporan keuangannya.

Emiten skala kecil juga mendapat pelonggaran berupa kewajiban penangguhan 12 bulan dan 6 bulan bagi perusahaan menengah untuk memenuhi ketentuan terkait organ atau fungsi tata kelola. Emiten skala kecil dan menengah juga tidak wajib mengumumkan prospektus pada surat kabar harian Indonesia dengan peredaran nasional. Prospektus diumumkan dalam situs web emiten atau penjamin emisi efek jika menggunakannya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen mendorong agar UMKM masuk ke pasar modal. Menurutnya, investor domestik dan asing sedang bertumbuh sehingga Indonesia menjadi pasar potensial. “Indonesia ini pasar potensial ada 2 juta investor ini tidak sampai 1 persen dari total penduduk. OJK terus mendorong emiten skala kecil dan menengah juga menyederhanakan dokumen,” jelas Hoesen, Rabu (23/10).

Dia juga melanjutkan di tengah perkembangan teknologi geliat pasar modal terus berkembang dengan kehadiran equity crowd funding atau layanan urun dana berbasis teknologi. Menurutnya, equity crowd funding sangat cocok bagi industri skala kecil dan menengah dala memperoleh tambahan modal.

“Equity crowd funding ini menarik sekali karena saham yang dijual kecil-kecil seperti jual soto, es, kebab tapi jumlahnya banyak. Pertumbuhannya menarik bahkan saya sampai merinding karena dana yang diambil sekitar Rp 500 juta paling banyak Rp 2 miliar,” tambah Hoesen.

Di sisi lain, Vice President of Legal and Compliance Bukalapak, Perdana Arning Saputro mengatakan terdapat berbagai tantangan bagi UMKM termasuk perusahaan rintisan atau start up menawarkan sahamnya kepada publik. Dia menjelaskan peran pendiri atau founder sangat dominan dalam UMKM sehingga saat menawarkan sahamnya kepada publik maka dominasi founder akan berkurang.

Selain itu, saat menawarkan saham kepada publik maka terdapat kerahasiaan perusahaan yang harus diungkapkan. Hal ini dikhawatirkan dapat mengurangi kompetisi perusahaan dengan pesaing.

“Harus diperhatikan saat masuk pasar modal ide antara founder dan publik sebagai pemilik saham. Kemudian, kompetisi industri startup sangat cepat bahkan hitungan hari sehingga saling intip sesama pemain. Saat IPO ada yang harus disclosed ini jadi pertimbangan startup saat IPO,” jelas Perdana.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of