AIIB Paling Deras Beri Pinjaman ke RI untuk Penanganan Corona

0
90
Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) mengaku memberikan pinjaman paling deras ke RI, setelah India, untuk penanganan corona dan infrastruktur. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).

Jakarta, CNN Indonesia — Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) mengaku paling deras mengalirkan pinjaman ke India, dan Indonesia, untuk pembangunan infrastruktur dan penanganan dampak pandemi virus corona (covid-19).
VP dan Chief Administration Officer AIIB Luky Eko Wuryanto merinci total pinjaman infrastruktur dan penanganan dampak corona untuk Indonesia sekitar US$2 miliar atau sekitar Rp29 triliun.

Masing-masing senilai US$1 miliar untuk infrastruktur dan US$1 miliar penanganan pandemi covid-19 dalam bentuk Fasilitas Pemulihan Krisis (CRF).

“Dari enam proyek (infrastruktur), sudah US$1 miliar, ditambah CRF US$1 miliar. Indonesia leader (pemimpin) nomor dua setelah India, mungkin Indonesia dan Turki agak sering susul-susulan,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (28/7) malam.

Diketahui, pinjaman infrastruktur dan penanganan dampak corona terbesar mengalir ke India sebesar US$5,88 miliar-US$6,86 miliar. “India jadi leader (pemimpin), negara yang paling aktif,” terang dia.

DI Indonesia, Luky menjelaskan pinjaman untuk pembangunan infrastruktur terdiri dari proyek irigasi, pengembangan kawasan perkotaan, revitalisasi kampung, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Selain itu, juga diberikan dalam bentuk pinjaman khusus ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang kemudian diteruskan ke pemerintah daerah (pemda).

“Ada juga satelit nusantara, tapi itu bukan pinjaman pemerintah, tapi swasta, tapi untuk Indonesia,” tuturnya.

Fokus ke Swasta

Presiden AIIB Jin Liqun mengungkapkan lembaganya akan fokus mengembangkan pembiayaan swasta untuk pembangunan infrastruktur ke depan. Khususnya, bagi negara-negara berpenghasilan rendah.

“Kami memahami sektor swasta memainkan peran besar dalam mempromosikan pembangunan infrastruktur di negara-negara Asia dan sekitarnya. Pekerjaan yang penting bagi kami adalah memobilisasi sumber daya investor swasta untuk membantu proyek infrastruktur,” jelas Jin.

Pembiayaan swasta dinilai memiliki keunggulan untuk mendorong pengembangan infrastruktur digital. Hal ini merupakan kebutuhan mendasar bagi pembangunan di semua negara, khususnya negara berpenghasilan rendah agar bisa meningkatkan kapasitas ekonominya.

“Kami akan membantu negara-negara berpenghasilan rendah untuk meningkatkan teknologi digital mereka untuk meningkatkan produktivitas dan membantu orang miskin untuk mendapatkan akses ke pasar untuk mata pencaharian mereka,” tuturnya.

Jin pun mengaku yakin bahwa pihak swasta akan tertarik dengan kerja sama infrastruktur digital. Sebab, bisa memberikan keuntungan dari sisi bisnis.

“Saya pikir ada banyak cara bagi kita untuk melibatkan sektor swasta untuk membantu negara-negara berpenghasilan rendah di Asia,” katanya.

Di sisi lain, keterlibatan swasta bisa mendorong pembangunan proyek infrastruktur tetap berlanjut di tengah pandemi corona. Di samping itu, AIIB mendorong negara-negara anggota agar bisa kembali ke bisnis normal sesegera mungkin.

“Saat ini kita berhadapan dengan keadaan darurat, tapi kami akan mencoba kembali ke bisnis normal secepat mungkin,” pungkasnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of