Ada banyak sekali jenis bahasa yang digunakan makhluk hidup di alam semesta. Bahasa manusia, bahasa hewan, bahasa tumbuhan hingga alam sendiri memiliki bahasa. Bahasa tidak hanya berupa huruf abjad atau aksara yang digunakan manusia. Bagi hewan, masing-masing jenis dari mereka memiliki bahasa tersendiri, seperti bahasa ayam adalah berkokok, bahasa burung adalah berkicau, bahasa anjing adalah menggonggong, bahasa singa adalah mengaum dan masih banyak lagi. Adapun tumbuhan berbahasa melalui bahasa tubuh. Bunga mekar, putri malu, daun yang jatuh, ranting yang patah dan pohon berbuah adalah cara mereka berbicara.
Bahasa adalah alat komunikasi. Tanpa bahasa, sesama makhluk tidak dapat saling memberi pengertian dan berinteraksi dengan baik. Akan tetapi dengan adanya berjuta bahasa, lantas tidak mungkin semua makhluk mampu mengenal dan memahami jenis-jenis bahasa yang ada. Apakah kita sebagai manusia paham akan bahasa hewan? Mungkin kita mengenal bahasa mereka dari suara yang mereka buat. Ketika mendengar suara kembikan, kita tahu bahwa kambing sedang berbicara tetapi tak mampu memahami apa yang mereka bicarakan. Lantas bagaimana hubungan antarmakhluk yang berbeda bahasa bisa terjalin?
Ini adalah cerita tentang seorang anak perempuan bernama Lea. Ia hidup di sebuah gubuk kecil bersama neneknya yang sudah renta. Ayah dan ibu Lea telah lama meninggal dunia. Karena hidup sebatang kara, ia menjadi tulang punggung kehidupannya bersama sang nenek dengan bekerja serabutan di ladang tetua desa dengan upah yang sangat pas-pasan. Tidak lulus sekolah dasar karena tak mampu menanggung biaya pendidikan membuat Lea harus ikhlas menerima keadaan menyedihkan untuk anak seusianya. Meski demikian, hatinya sabar dan lapang. Baginya, untuk apa bergelimang kertas dan logam rupiah? Cukuplah harta yang paling berharga baginya saat ini adalah sang nenek dan si kucing peliharaannya.
Puti, begitulah nama kucing kesayangan Lea. Mata coklat, bulu putih bersih, ditambah dengan suara meongnya yang manis cukup menarik bagi kucing liar seperti si Puti ini. Si Puti sudah menemani hari-hari Lea sejak ia masih kecil. Mereka sangat akrab layaknya seorang sahabat. Bagi orang-orang penyayang binatang, berteman dengan mereka sudah tidak asing lagi tentunya. Lea mungkin masih sangat ingat saat dulu lututnya selalu sakit karena bermain kejar-kejaran dengan si Puti. Saat ini permainan itu sudak tidak menarik lagi. Entah sejak kapan Lea mulai iseng mengerjai si Puti dengan bersandiwara pura-pura mati. Geli rasanya mendengar meong si Puti yang seakan-akan mengeluh karena diabaikan olehnya.
Selain suka bermain-main, si Puti juga suka membantu. Kucing itu selalu membangunkan Lea di pagi hari, mengingatkannya untuk segera bangun dan bersiap pergi bekerja di ladang. Menjilat-jilat pipi Lea adalah bahasa si Puti untuk membangunkan “teman manusia”-nya itu. Sementara Lea bekerja, si Puti juga suka menemani dan merawat sang nenek. Bahkan si Puti sudah tahu kapan waktu sang nenek harus makan dan minum obat. Sang nenek selalu patuh ketika mendengar peringatan si Puti. Suara meongnya yang nyaring mungkin bisa membuat sang nenek kehilangan pendengarannya apabila ia tidak segera menuruti perintah kucing itu. Kalian bisa memastikan sendiri bahwa bahasa peringatan seekor hewan terkadang bisa lebih menyeramkan daripada seorang manusia.
Di lain waktu, si Puti juga suka mengikuti Lea pergi ke ladang. Kucing itu juga perlu terbebas dari sesak napas gubuk kecil itu, bukan? Demi mendapat izin Lea, si Puti akan merayunya dengan memasang mata memohon dan mengeluarkan suara meongnya yang terkesan meminta perhatian. Entah sandiwara atau realita, pada akhirnya kucing itu tidak pernah gagal. Lea dengan senang hati tidak melarang si Puti untuk membantunya bekerja. Sebenarnya daripada membantu, kucingnya lebih senang bermain ke sana ke mari dan mengganggu pekerjaannya.
“Hentikan, Puti. Kau akan merusak tumbuhan itu. Hey, jangan injak-injak dan berlari di sana!”
Ini adalah hal lumrah yang dilakukan si Puti di ladang tempat Lea bekerja. Berlari, menggigit, dan mencakar apapun yang dilihatnya. Saat ini posisi matahari tepat berada pada posisi vertikal sempurna. Lea yang sudah cukup berkeringat karena sejak pagi mencabut rumput kering sedang duduk di bawah pohon. Adalah salah satu rutinitasnya beristirahat di sana sambil menyantap makan siang yang telah disediakan oleh pemilik ladang sembari bercakap-cakap dengan petani lain. Ladang dengan luas beribu hektar itu tidak hanya dikelola oleh Lea. Masih ada banyak kelompok petani ladang lainnya yang juga ikut bekerja meski usia mereka terlampau jauh jika dibandingkan dengannya. Sebagian besar para petani itu adalah pria dan wanita paruh baya. Di desa itu, jarang sekali anak muda bekerja di ladang. Rata-rata mereka lebih memilih bekerja kasar di pabrik sebrang ujung sungai desa, lebih potensial dan menguntungkan.
“Kau harus memberikan kucing itu makan agar dia diam di tempat, Lea,” salah seorang petani tua yang tubuhnya hampir setengah membungkuk tertarik dengan gerak-gerik si Puti.
Lea hanya tersenyum, “Sebenarnya setengah dari makananku ini sudah dihabiskan si Puti, bahkan sebelum aku menyentuhnya.”
Saat matahari mulai pergi ke barat, si Puti sudah tahu bahwa ini adalah waktu Lea selesai bekerja. Kucing itu mulai berlari menyusulnya. Tubuh Lea yang kelelahan membuatnya tidak bisa berjalan dengan cepat dalam perjalanan pulang. Ia sempat melamun memandang langit yang berwarna merah kekuning-kuningan. Cahayanya bertebaran ke sungai kecil yang dilewatinya. Aliran sungai di dalamnya seperti diberi sentuhan lukisan alam, indah sekali.
“Hey, Puti. Apakah kau tidak lelah sejak pagi terus berlari?” Lea mulai berbicara.
“Meong,” tentu saja itu jawaban si Puti.
“Jika kau memang benar-benar kuat maka aku berharap aku terlahir jadi kucing saja sepertimu, Puti agar aku juga bisa mengerti bahasa kucing”
“Meong,” lagi, Lea hanya bisa tertawa. Si Puti lucu sekali.
Lea dan si Puti tiba di gubuk mereka tepat saat langit mulai menghitam. Gubuk kecil itu dikelilingi banyak pohon, sekitarnya hampir seperti hutan. Apabila ada orang yang tersesat di sana mungkin mereka akan menganggap bahwa gubuk itu berhantu saking tidak layaknya untuk dihuni. Saat pintu masuk dibuka akan terdengar suara derat kayu yang hampir patah. Di dalamnya tidak ada lantai sebagai alas kaki, hanya tanah. Jendelapun tak ada. Sirkulasi udara hanya mengandalkan dinding-dinding kayu berongga yang mulai dimakan rayap. Sebagian dinding kayu yang lubangnya parah ditutupi oleh seng bekas dari rongsokan. Jangan lupakan atapnya yang tidak terawat. Saat hujan, beberapa daerah di dalam gubuk itu selalu bocor meski sudah beberapa kali diperbaiki asal-asalan. Lea seharusnya sangat bersyukur bahwa gubuknya masih dikelilingi pohon-pohon besar yang mampu menahan badai angin sehingga tempat tinggalnya masih dapat berdiri hingga saat ini. Adapun urusan lain seperti pohon yang mungkin tumbang dan kemudian menimpa gubuknya, nanti saja ia pikirkan lagi.
“Meong,” si Puti dan Lea saat ini sedang makan malam bersama. Setelah Lea memastikan bahwa sang nenek sudah tertidur, giliran mereka yang sekarang harus beristirahat. Sebenarnya makan malam itu adalah hal yang tak biasa bagi mereka. Malam ini sang nenek hanya makan sedikit. Entah sudah kenyang atau sengaja membiarkannya tersisa agar Lea dan si Puti juga bisa sedikit menikmatinya.
“Kondisi nenek akhir-akhir ini semakin buruk saja, Puti. Obat murah itu sudah tidak mempan. Kita harus beli obat yang bagus agar nenek sembuh.”
“Meong,” si Puti masih asyik mengunyah makanannya.
“Upah kita di ladang hanya cukup untuk membeli makan sehari-hari, Puti. Tentunya akan lebih parah lagi nasib perut kita apabila harus membeli obat nenek yang lebih mahal.” Lea sedikit menertawakan kesedihannya.
Malam itu Lea tidak bisa tidur nyenyak, ia masih memikirkan kesehatan neneknya. Berbeda dengan si Puti yang sudah tertidur dan mengorok di sampingnya. Jangan bayangkan bahwa suara ngorok kucing sama seperti manusia, itu menyeramkan. Lea mengelus-ngelus lembut bulu temannya itu. Kucing itu sepertinya tahu bahwa Lea akan terlambat bangun besok pagi. Alasan itulah yang mungkin membuat si Puti tertidur lebih cepat sementara Lea mungkin hanya menganggap bahwa kucingnya hanyalah tukang tidur. Meskipun begitu, Lea sangat menyayangi si Puti sama seperti ia menyayangi neneknya. Ia akan sangat sedih apabila keduanya tidak ada di kehidupan kecilnya saat ini.
Si Puti benar, pagi ini Lea terlambat. Entah pada jilatan yang ke berapa kali hingga akhirnya Lea bisa terbangun. Ia segera tergesa-gesa menuju ladang. Si Puti kali ini tidak mengikutinya karena Lea kelewatan berlari terbiri-birit. Ia hampir seharian diceramahi pimpinan petani ladang karena terlambat datang bekerja hari itu. Hingga tiba waktu sore, Lea bersyukur karena gendang telinganya tidak robek. Pimpinan petani tentu lebih memilih pulang setelah kelelahan bekerja dibandingkan dengan melanjutkan ceramah lainnya.
“Apa kau baik-baik saja, Lea?” Petani tua kemarin menyapanya. Lea hanya diam.
“Kau bisa bercerita jika kau punya masalah, Lea. Barangkali kakek tua ini bisa membantu,” sang kakek tidak menyerah.
“Nenekku sakit. Aku tidak mampu lagi membeli obat untuknya. Upah ini hanya cukup untuk keperluan makan kami.” Lea menatap lesu sejumlah uang yang baru saja diberikan pemilik ladang. Ini akhir pekan, waktunya sang majikan membalas jasa para petaninya.
“Kau mau ikut ke rumahku, Lea? Tidak jauh dari sini. Aku punya beberapa anak yang cukup dewasa. Mereka adalah para pekerja pabrik. Aku harap keluargaku bisa membantu.”
Diam lagi, Lea tidak tahu harus bagaimana.
“Ayo, nak. Meskipun rumahku dekat dari ladang ini, kamu tentu tidak akan mau sampai larut malam saat tiba di rumahmu, bukan?” Kakek itu mulai berjalan pulang. Lea dengan ragu mengikutinya.
Keluarga kakek itu baik sekali. Mereka memberikan beberapa ubi-ubian yang cukup untuk persediaan makan Lea beberapa hari ke depan. Ia juga mendapat tiga ekor ikan ukuran besar. Anak-anak kakek itu sempat pergi memancing setelah pulang bekerja, tangkapan mereka banyak. Setelah pergi dari rumah petani tua itu, Lea segera menuju tabib terdekat, membeli ramuan obat yang lebih manjur untuk neneknya. Sisa upah yang ada dan bantuan dari keluarga sang kakek lebih dari cukup untuk membantunya mengatasi rasa lapar.
“Hari ini kita harus banyak bersyukur, Puti. Kau lihat ini? Tiga ekor ikan ini menggiurkan sekali, bukan?” Setelah tiba di gubuknya, Lea segera menyuapi beberapa ubi yang sudah matang dan memberi obat kepada sang nenek. Saat ini Lea sedang membenahi barang bawaannya. Si Puti memandang lurus tiga ekor ikan ukuran besar yang dibawa Lea.
“Sepertinya kau tidak sabar, Puti. Kemari, makanlah ikan ini sampai pipimu gemuk.” Lea memberikan satu ekor ikan untuk kucingnya sedangkan ikan lainnya ia simpan di dalam wadah. Si Puti dengan ragu mendekati makanannya. Entah apa yang terjadi tetapi seperti ada hal yang aneh. Si Puti tidak seperti kucing lain yang akan menjadi liar apabila melihat santapan besar yang sangat menggiurkan.
“Tidak perlu gengsi begitu, Puti. Makanlah. Pastikan kau menghabiskannya tanpa tulang setelah aku selesai mandi.”
Aneh lagi, tidak ada sautan dari si Puti seperti biasanya.
Setelah selesai membersihkan diri, Lea mulai memanggil si Puti. Entah mengapa kucing itu tidak terlihat di tempatnya makan sebelumnya. Ia tidak di sana sementara santapannya sudah habis tanpa jejak. Lea mencari-cari si Puti di tempat lain. Nihil, tetapi ada yang ganjil. Wadah tempat ia menyimpan dua ekor ikannya telah berpindah tempat. Saat itulah Leapun menyadari bahwa ikan-ikannya sudah tidak ada di sana. Lea menatap nanar ke arah wadah kosong itu. Wajahnya mulai memerah, kesal. Ia tahu apa yang terjadi.
“Meong,” akhirnya suara kecil si Puti terdengar. Ia datang dari luar gubuk. Mulutnya masih penuh dengan sisa-sisa ikan yang telah dimakannya.
“Apa yang kau lakukan, Puti! Apakah seekor ikan saja tidak cukup untukmu, hah?”
Si Puti mengeong lagi.
“Meong-meong saja katamu! Apakah kau tahu bahwa aku akan memberikan ikan itu untuk nenek karena nenek masih lapar? Sejak kapan aku mengajarimu menjadi rakus?” Lea sangat marah. Ia bahkan membanting wadah itu di hadapan si Puti.
“Meong.” Kesal dengan suara si Puti, Lea mulai menendangnya ke luar gubuk.
“Aku lupa bahwa kau adalah kucing liar, Puti. Pantas saja kau rakus! Aku yakin kau juga bisa bertahan hidup di luar sana. Lihat, sepertinya hujan akan segera turun. Mari kita buktikan apakah kau benar-benar kucing liar yang tangguh!” Lea menutup rapat pintu gubuk, tak menghiraukan suara si Puti. Ia membiarkan kucingnya tidur di hutan. Hatinya buta. Kali ini tak ada setitikpun kesabaran untuk kucing kesayangannya itu.
Doa Lea terkabul, tengah malam ini hujan turun sangat deras disertai gemuruh petir. Suara si Puti sesekali masih terdengar. Lea masih tidak peduli.
Keesokan paginya, Lea beruntung tidak bangun terlambat. Ia sempat melihat si Puti yang masih tertidur di depan pintu gubuk dan menghalanginya saat akan pergi ke ladang. Tubuhnya sedikit merinding, mungkin kedinginan. Lea hanya melangkahinya dengan acuh. Namun di tengah-tengah saat Lea sedang bekerja, ia tidak bisa berbohong bahwa ia memikirkan si Puti. Ia mulai merasa bersalah atas perlakuannya semalam. Semakin memikirkannya, semakin pula rasa penyesalan itu menjadi-jadi. Seharusnya aku tidak berbuat seperti itu. Si Puti hanyalah kucing, tentu saja ia tidak mengerti. Bahasa kami berbeda. Lea berjanji akan menebus kesalahannya pada si Puti. Bersamaan dengan ingatannya akan si Puti dan ikan-ikan itu, ia mulai mencari sang kakek yang telah menolongnya.
“Pagi ini aku melihat kakek tua bungkuk itu pergi ke tabib, Lea. Entah apa yang terjadi tetapi mungkin itu sebabnya ia tidak bekerja hari ini,” salah seorang petani memberitahu Lea.
Hal-hal yang terjadi tadi malam hingga hari ini belum mampu disadari oleh Lea. Akan tetapi peristiwa ganjil lain di perjalanannya pulang mulai ia rasakan. Sore itu, ia melihat banyak penduduk setempat berkumpul di sekitar sungai. Kerumunan itu menarik perhatian Lea. Ia mulai bertanya apa yang sedang terjadi.
“Sungai desa kita tercemar limbah pabrik sebrang, nak. Kau bisa lihat itu? Para penduduk sedang membersihkan bangkai-bangkai ikan agar air sungai tidak semakin keruh.” Salah seorang ibu yang sedang menggendong anak kecil menjelaskannya.
“Apalah yang dilakukan orang-orang kaya itu. Pemilik pabrik sungguh tidak peduli pada keadaan alam dan desa kita. Mereka hanya mementingkan keuntungan mereka sendiri.”
Astaga. Lea mulai bergidik, ngeri. Tidak sedikit ia melihat ikan-ikan yang mati sedang dibawa ke pinggir sungai. Jika air sungai tercemar, apakah ikan-ikan itu juga beracun? Beberapa detik setelahnya, Lea tersadar. Ia mulai berlari dengan panik. Orang-orang yang dilaluinya terheran-heran melihatnya. Mata Lea merah berair, isak tangis mulai terdengar. Puti, maafkan aku, bisik Lea dalam hatinya.
——–
Orang-orang penuh cinta pernah mengatakan bahwa pesan kasih sayang seseorang dapat tersampaikan pada siapa yang ia sayangi tanpa perlu ia menyatakannya. Perwujudan kasih sayang itu dapat tercermin dari bahasa tubuh serta hati yang mulia. Sepertinya hal ini tidaklah salah. Persahabatan Lea dan si Puti membuktikannya. Mereka saling menyayangi layaknya persahabatan yang tidak pernah mati. Akan tetapi bagaimana dengan menyelesaikan kesalahpahaman? Tidak ada satu persahabatanpun yang tidak pernah bercerai-berai. Ini hanya masalah bagaimana mereka dapat menyatukannya kembali. Dan dalam kisah ini, Lea dan si Puti tidak memiliki kesempatan itu.
Si Puti mati dalam keadaan menyedihkan. Ia terbaring lemah di halaman gubuk. Jika melihat keadaannya, terlihatlah bahwa ia sempat muntah-muntah dan kesakitan. Ternyata ia keracunan dari ikan-ikan yang dimakannya semalam. Hal ini bisa diketahui Lea saat perjalanannya pulang melewati sungai dan menemui kerumunan penduduk itu. Lebih jelas lagi ketika kemudian sang kakek menghampiri gubuknya, bercerita bahwa keluarganya sakit setelah memakan ikan yang dipancing anak-anaknya di ujung sungai. Beruntung sakit mereka tidak parah, berbeda dengan si Puti yang harus kehilangan nyawanya.
Lea tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu. Si Puti tidak pernah bersemangat dengan tiga ekor ikan yang dibawanya. Kucing itu tahu ikan-ikan itu beracun. Aromanya berbeda, tidak sedap. Saat si Puti mengira bahwa Lea akan memberikan ikan itu untuk sang nenek, ia segera melahap seluruhnya tanpa sisa. Si Puti tidak tahu bagaimana cara memberitahu Lea bahwa ikan itu berbahaya untuk dimakan sehingga dengan penuh terpaksa iapun menghabiskannya. Ia tidak ingin Lea dan neneknya berada pada posisinya saat ini, kesakitan dan mati.
Di sini penulis ingin menyampaikan akan pentingnya bahasa persahabatan, komunikasi yang baik harus dibangun sebagai fondasinya. Mari kita belajar dari si Puti yang tidak mampu menjelaskan kesalahpahaman Lea, dan Lea yang tidak mampu menyampaikan rasa bersalahnya pada si Puti. Saat kita memiliki seorang sahabat, mungkin kita tidak memerlukan kata-kata seperti “aku sayang kamu” atau bahkan “i love you” karena sebagian besar dari kita mungkin mengerti bahwa eksistensi rasa saling menyayangi ada dalam persahabatan kita. Hal ini kita sadari pada momen saat kita tertawa, berbagi cerita dan pada momen-momen kebersamaan lainnya. Akan tetapi berbeda dalam kondisi saat persahabatan kita mengalami perselisihan. Penjelasan diperlukan, dan kata maaf perlu diucapkan selagi kita masih memiliki bahasa yang dapat dimengerti oleh satu sama lain. Marilah kita hargai bahasa dan persahabatan kita. Untukmu sahabat, maaf dan terimakasih.

Penulis : Salsabila Qurrota Ayun, Akuntansi 2017

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of